Headlines News :
Home » » Skripsi - Usaha Guru Agama Islam dalam Meningkatkan Motivasi Belajar PAI Pada Siswa di SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat

Skripsi - Usaha Guru Agama Islam dalam Meningkatkan Motivasi Belajar PAI Pada Siswa di SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat

Written By Sukri Anto on 23 Mei 2012 | 22.00

BAB I

PENDAHULUAN

Penegasan Istilah


Untuk menjelaskan skripsi yang berjudul “Usaha Guru Agama Islam dalam Meningkatkan Motivasi Belajar PAI Pada Siswa di SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat”, maka perlu untuk merumuskan penegasan istilah secara operasional dari judul tersebut. Hal itu untuk mengantisipasi terjadinya kesalahpahaman dalam penafsiran, maka penulis perlu untuk memberikan batasan-batasan sebagai berikut:

    1. Usaha
Usaha adalah kegiatan untuk mengerahkan tenaga, pikiran, untuk mencapai suatu maksud.1 Yang dimaksud usaha di sini adalah suatu upaya atau ikhtiar yang dilakukan oleh guru agama Islam untuk meningkatkan motivasi belajar PAI pada siswa SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat.
    1. Guru Agama Islam
Guru agama Islam adalah pendidik yang mempunyai tanggung jawab sebagai guru agama dalam membentuk kepribadian anak didik, serta mampu beribadah kepada Allah.2
Kaitannya dengan judul di atas adalah bahwa guru agama merupakan guru yang mengajar dan mendidik siswa di sekolah pada mata pelajaran PAI.
    1. Meningkatkan
Meningkatkan berarti menaikkan (derajat, taraf), memperhebat (produksi), mempertinggi.3 Konsep operasional dalam penelitian skripsi ini adalah meningkatkan yang berarti menumbuhkan dan mendorong minat siswa untuk belajar.
    1. Motivasi
Motivasi berarti suatu tenaga (dorongan, kemauan) dari dalam yang menyebabkan seseorang berbuat atau bertindak yang mana tindakan itu diarahkan kepada tujuan tertentu yang hendak dicapai.4 Motivasi disini maksudnya adalah suatu dorongan motif dalam diri seseorang yang mana dengan motivasi tersebut akan menyebabkan aktif dan merasakan ada kebutuhan dalam melakukan belajar, sehingga dengan demikian proses belajar mengajar akan berhasil secara optimal. Dengan kata lain bahwa dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari adanya motivasi, maka siswa yang belajar akan dapat melahirkan prestasi yang baik. Intensitas motivasi seorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya.
    1. Belajar
Belajar adalah sebuah proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan dari hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuan, pemahaman sikap dan tingkah laku, keterampilan, kebiasaan serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu belajar.5
    1. Pendidikan Agama Islam
Pendidikan agama Islam adalah suatu usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik dengan tujuan agar dapat memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam serta menjadikannya sebagai way of life (jalan kehidupan).6 Adapun yang di maksud dengan Pendidikan agama Islam dalam penelitian ini adalah PAI yang dirumuskan pada kurikulum untuk tingkat SLTP.
    1. Siswa SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat
Siswa yang di maksud di sini adalah siswa atau peserta didik yang bersekolah di SLTPN 3 Kuningan yang mana sekolah ini adalah milik pemerintah di bawah instansi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang berlokasi di Jl. Pramuka No. 104 Kel. Purwawinangun Kec. Kuningan Jawa Barat.
Berdasarkan definisi operasional di atas, maka maksud dari judul skripsi ini adalah sebagai suatu penelitian lapangan tentang usaha yang dilakukan oleh guru agama Islam dalam mempengaruhi minat dan kecenderungan belajar pandidikan agama Islam pada siswa SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat, sehingga dengan adanya usaha guru dalam menumbuhkan motivasi belajar belajar ini diharapkan prestasi siswa semakin meningkat.

Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah proses secara sadar dalam membentuk anak didik untuk mencapai perkembangannya menuju kedewasaan jasmani maupun rohani, dan proses ini merupakan usaha pendidik membimbing anak didik dalam arti khusus misalnya memberikan dorongan atau motivasi dan mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa.
Dalam pendidikan motivasi merupakan salah satu faktor penunjang dalam menentukan intensitas usaha untuk belajar dan juga dapat dipandang sebagai suatu usaha yang membawa anak didik ke arah pengalaman belajar sehingga dapat menimbulkan tenaga dan aktivitas siswa serta memusatkan perhatian siswa pada suatu waktu tertentu untuk mencapai suatu tujuan. Motivasi bukan saja menggerakkan tingkah laku tetapi juga dapat mengarahkan dan memperkuat tingkah laku. Siswa yang mempunyai motivasi dalam pembelajarannya akan menunjukkan minat, semangat dan ketekunan yang tinggi dalam belajarnya, tanpa banyak bergantung kepada guru.
Motivasi belajar adalah faktor psikis yang bersifat non intelektual. Peranannya yang khas yaitu dalam hal menumbuhkan gairah dalam belajar, merasa senang dan mempunyai semangat untuk belajar sehingga proses belajar mengajar dapat berhasil secara optimal.7
Berdasarkan sumbernya, motivasi belajar dapat dibagi menjadi dua yaitu (1) motivasi intrinsik, yakni motivasi yang datang dari dalam peserta didik; dan (2) motivasi ekstrinsik, yakni motivasi yang datang dari lingkungan di luar diri peserta didik.
Dalam pengembangan pembelajaran pendidikan agama Islam di sekolah perlu diupayakan bagaimana agar dapat mempengaruhi dan menimbulkan motivasi intrinsik melalui penataan metode pembelajaran yang dapat mendorong tumbuhnya motivasi ekstrinsik dapat mendorong tumbuhnya motivasi belajar dalam diri siswa. Sedangkan untuk menumbuhkan motivasi ekstrinsik dapat diciptakan suasana lingkungan yang religius sehingga tumbuh motivasi untuk mencapai tujuan PAI sebagaimana yang telah ditetapkan.8
Berkaitan dengan fungsi motivasi, S. nasution menjelaskan bahwa motivasi dapat berfungsi sebagai:
  1. Mendorong manusia untuk berbuat sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi.
  2. Menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai
  3. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dijalankan yang serasi guna mencapai tujuan itu, dengan mengesampingkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan itu.9

Memperhatikan fungsi motivasi yang sangat besar faedahnya bagi siswa dalam proses pembelajaran, maka jelas fungsi guru agama sebagai motivator sangat dibutuhkan, terlebih jika dikaitkan dengan proses pembelajaran yang terjadi di sekolah umum khususnya SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat, dimana waktu yang digunakan adalah sangat terbatas yaitu 2 X 45 menit dalam seminggu. Hal ini menjadi kendala dan problem dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pendidikan agama Islam. Problem lain yang terjadi bahwa siswa cenderung kurang berminat terhadap mata pelajaran pendidikan agama Islam, disamping proses pembelajaran yang kelihatan kurang maksimal diminati siswa, sehingga hasilnya tidak sesuai dengan tujuan yang dirumuskan.
Anak didik adalah makhluk yang memiliki kreatifitas dan serba aktif yang menuntut agar dalam pendidikan anak benar-benar dibimbing dan diarahkan agar ia dengan sendirinya juga menampakkan kreatifitasnya. Di dalam proses belajar mengajar anak harus diperhatikan dan diposisikan sesuai dengan kemampuannya, serta pendidikan hendaknya lebih bersifat menolong berkembangnya pikiran kritis, tidak hanya berupa pemberian materi pelajaran yang tidak memenuhi kepada apa yang dibutuhkan anak.10
Berkaitan dengan masalah pendidikan ini peranan guru agama Islam SLTPN 3 Kuningan besar sekali pengaruhnya terhadap keberhasilan pelaksanaan proses belajar mengajar pendidikan agama. Sebagai seorang guru agama Islam, hal tersebut merupakan tantangan pertama dalam menumbuhkan peningkatan minat dan motivasi belajar siswa terhadap mata pelajaran agama serta membantu memecahkan kesulitan siswa terutama dalam kegiatan kurikuler.
Tugas guru agama sebagai seorang pendidik tidak hanya terbatas pada penyampaian materi/ pengetahuan agama kepada siswa, tetapi guru juga mempunyai tanggung jawab dalam membimbing dan mengarahkan siswanya serta mengetahui keadaan siswa dengan kepekaan untuk memperkirakan kebutuhan siswanya. Oleh karena itu, guru agama Islam dituntut tanggap terhadap berbagai kondisi dan perkembangan yang mempengaruhi jiwa, keyakinan, dan pola pikir siswa. Hal ini dapat diupayakan dengan disertai wawasan tertulis serta keterampilan bertindak, serta mengkaji berbagai informasi dan keluhan mereka yang mungkin menimbulkan keresahan.
Guru agama dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar juga di tuntut untuk menciptakan kondisi-kondisi kelas yang menyenangkan (kondusif) yang dapat mendorong siswa untuk melakukan kegiatan belajar agama Islam dengan sungguh-sungguh, baik itu di lingkungan yang bersifat formal maupun secara luas belajar agama di lingkungan non formal secara mandiri. Di samping itu, guru juga harus mempunyai keterampilan dalam memotivasi siswa, karena dengan adanya motivasi itu kosentrasi dan antusiasme siswa dalam belajar dapat meningkat.
Sesungguhnya permasalahan di atas yang menjadi kendala dalam usaha guru agama Islam dalam melaksanakan proses belajar mengajar khususnya dalam bidang studi pendidikan agama Islam di SLTPN 3 Kuningan, walaupun sudah melaksanakan kegiatan-kegiatan keagamaan seperti yang meliputi praktek shalat, tadarusan al-Qur`an dan lain-lain. Dengan demikian, usaha guru agama untuk menumbuhkan motivasi yang besar untuk belajar agama Islam masih perlu untuk disempurnakan lagi.
Namun demikian, karena meningkatkan motivasi belajar agama Islam bukanlah hal yang mudah, melainkan masih banyak problem-problem yang dihadapi guru agama Islam, maka kreatifitas dan profesionalitas guru-guru agama dan ketekunan serta keuletan dengan berbagai usaha yang dapat mengantarkan pada tumbuhnya motivasi belajar agama dengan baik.
Berdasarkan studi pendahuluan di atas, maka penelitian ini terfokus pada usaha-usaha yang telah ditempuh oleh guru agama Islam di SLTPN 3 Kuningan dalam meningkatkan motivasi belajar di SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat.

Rumusan Masalah

Berdasar latar belakang masalah yang telah dikemukakan, maka dapat dikemukakan beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
  1. Bagaimana motivasi belajar PAI pada siswa di SLTPN 3 Kuningan?
  2. Bagaimana usaha yang ditempuh guru agama Islam dalam meningkatkan motivasi belajar PAI di SLTPN 3 Kuningan?
  3. Bagaimana hasil yang dicapai oleh guru agama Islam dalam meningkatkan motivasi belajar PAI di SLTPN 3 Kuningan?

Alasan Pemilihan Judul

  1. Memperhatikan bahwa motivasi merupakan daya yang sangat besar dalam menggerakkan siswa untuk memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam, yang ini akan bermanfaat bagi perkembangan siswa di SLTPN 3 Kuningan.
  2. Guru agama Islam mempunyai peranan yang sangat penting dalam usaha- usaha peningkatan motivasi belajar PAI pada siswa di SLTPN 3 Kuningan.

Tujuan dan Kegunaan Penelitian

  1. Tujuan Penelitian

    1. Mendeskripsikan motivasi belajar siswa pada bidang studi PAI di SLTPN 3 Kuningan.
    2. Mendeskripsikan usaha yang telah dilakukan guru agama Islam dalam meningkatkan motivasi belajar PAI pada siswa di SLTPN 3 Kuningan
    3. Mengungkapkan keberhasilan yang dicapai oleh guru agama Islam dalam upayanya meningkatkan motivasi belajar PAI pada siswa di SLTPN 3 Kuningan.
  1. Kegunaan Penelitian
    1. Sebagai bahan masukan dan sumbangan pemikiran untuk mengelola PAI khususnya yang berkenaan dengan pelaksanaan PAI di SLTPN 3 Kuningan.
    2. Berguna bagi guru agama Islam di SLTPN 3 Kuningan sebagai acuan pertimbangan dalam usahanya untuk meningkatkan motivasi belajar PAI pada siswa.

Metode Penelitian

Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Jenis Penelitian

Penelitian ini mengambil lokasi di SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat, oleh karena itu penelitian ini digolongkan dalam penelitian lapangan di mana yang menjadi obyeknya adalah tentang motivasi siswa SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat terhadap mata pelajaran agama Islam.
2. Metode Penentuan Subyek
Metode penentuan subyek sering disebut sebagai metode penentuan sumber data. Maksud dari sumber data penelitian adalah subyek dari mana data itu diperoleh.11
Subyek penelitian ini adalah guru agama Islam dan siswa SLTPN 3 Kuningan, yang menekankan obyek penelitian tentang motivasi belajar siswa. Secara operasional, penelitian ini membutuhkan metode penentuan subyek yaitu teknik populasi dan teknik sampling.

Penentuan subyek dalam penelitian ini yang berubungan dengan masalah motivasi belajar agama Islam pada siswa SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat yaitu:
a. Populasi
Penerapan populasi dilakukan pada kepala sekolah dan guru agama Islam. Karena sesungguhnya mereka mempunyai kepentingan untuk meningkatkan dan mengembangkan motivasi belajar pada siswa di sekolah. Sedangkan untuk penerapan teknik sampling dilakukan pada sebagian siswa SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat.
Dalam penelitian ini, yang menjadi sumber data adalah:
    1. Kepala sekolah SLTPN 3 Kuningan
    2. Guru agama Islam SLTPN 3 Kuningan
    3. Siswa SLTPN 3 Kuningan
  1. Teknik Sampling
Berdasar jumlah populasi siswa yang besar dan berdasarkan pada tujuan penelitian yaitu melihat bagaimana guru agama Islam dalam meningkatkan motivasi belajar agama pada siswa di sekolah, maka cara pengambilan penelitian ini menggunakan teknik stratified random sampling, artinya pengambilan sampelnya adalah dari populasi yang populasinya terdiri dari kelompok-kelompok yang mempunyai susunan bertingkat.12
Adapun yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah siswa SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat. Untuk mengambil sampel ini Suharsimi berpendapat :
Untuk sekedar ancar-ancar maka apabila subjeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semuanya sehingga peneliti merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika subjeknya lebih besar dapat diambil 10-15% atau 15-20% atau lebih.”13

Berdasarkan pendapat Suharsimi di atas, penulis akan mengambil sampel siswa kelas II dan kelas III yaitu 10 % dari 638 siswa yaitu 64 siswa.
  1. Pendekatan Penelitian
Adapun pendekatan penelitian yang digunakan peneliti adalah pendekatan psikologi pendidikan karena motivasi merupakan salah satu dari faktor psikologis yang dapat memberi landasan dan kemudahan dalam upaya mencapai tujuan belajar. Motivasi juga sangat erat kaitannya dengan minat yang ada dalam keadaan psikis anak didik. Peneliti akan membahas tentang motivasi belajar agama pada siswa di SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat.
  1. Metode Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang cukup dan jelas sesuai dengan permasalahan penelitian, peneliti menggunakan metode pengumpulan data yaitu meliputi:
    1. Metode Observasi
Metode observasi dalam pengumpulan dat dapat diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang ada dalam objek yang akan diteliti (diselidiki).14 Penulis melakukan pengamatan secara langsung untuk mendapatkan data yang diperlukan. Dalam penelitian ini metode observasi digunakan untuk mengumpulkan data antara lain:
    1. Mengamati kegiatan guru dan siswa, baik di dalam proses belajar mengajar maupun di luar kegiatan pembelajaran.
    2. Mengamati lokasi penelitian dan lingkungan yang sekitar SLTPN 3 Kuningan untuk mendapat data tentang gambaran umum lokasi penelitian.
    3. Mengamati sarana prasarana yang menunjang pada proses pembelajaran PAI serta hal-hal lain yang relevan dengan penelitian
ini.
    1. Metode Interview/ Wawancara
Wawancara merupakan suatu metode pengumpulan data dan informasi yang dilakukan dengan jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan dengan sistematik dan dibandingkan dengan tujuan penelitian.15


Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang latar belakang sejarah berdirinya dan perkembangan sekolah serta untuk mendapatkan informasi tentang usaha-usaha guru agama Islam dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Dalam hal ini yang menjadi responden adalah kepala sekolah, kepala TU dan guru agama SLTPN 3 Kuningan.

    1. Metode Dokumentasi
Metode ini merupakan pengambilan data berdasarkan dokumentasi yang dalam arti sempit berarti kumpulan data verbal dalam bentuk tulisan.16
Penulis mengunakan metode dokumentasi untuk mendapatkan data tentang letak geografis, jumlah guru dan karyawan, keadaan siswa dan keadaan sarana prasarana.
    1. Metode Angket
Metode angket yang dimaksud disini adalah berupa daftar pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden tentang hal-hal yang berkaitan dengan penelitian.17
Menurut Kuntjaraningrat, metode kuesioner merupakan suatu daftar yang tertulis yang berisikan suatu rangkaian pertanyaan mengenai suatu hal atau dalam suatu bidang, dengan demikian maka kuesioner yang dimaksudkan sebagai suatu daftar pertanyaan untuk memperoleh jawaban dari responden (orang- orang yang menjawab).18
Tujuan dari metode ini adalah untuk mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan persoalan tentang motivasi belajar siswa terhadap mata pelajaran agama Islam dan mengetahui respon siswa terhadap upaya guru agama dalam meningkatkan motivasi belajar di sekolah.

  1. Metode Analisa Data
Setelah data terkumpul, untuk selanjutnya data tersebut diklasifikasikan dan dianalisis dengan menggunakan teknik deskriptif analitik, yaitu metode yang digunakan untuk suatu data yang terkumpul, kemudian disusun, dijelaskan dan dianalisa, karena data yang dikumpulkan berupa data kualitatif dan kuantitatif, maka yang digunakan dalam menganalisis data adalah metode analisis deskriptif kualitatif dan kuatitatif. Berdasarkan data yang terkumpul baik bersifat kualitatif maupun kuantitatif akan dianalisis dengan menggunakan dua cara pendekatan yaitu:
a. Deskriptif analitik non statistik, analisis ini menggunakan data yang bersifat kualitatif yaitu data dianalisis dengan menggunakan metode pembahasan:
  1. Induktif: yaitu cara berpikir dari fakta-fakta yang khusus, peristiwa yang konkrit, kemudian ditarik generalisasi yang mempunyai sifat umum. Metode ini dipakai untuk menganalisa data khusus yang mempunyai persamaan sehingga menjadi suatu kesimpulan.
  2. Deduktif: yaitu cara-cara berpikir untuk mengambil kesimpulan dengan berangkat dari hal atau peristiwa yang umum menuju pada hal yang khusus.19
b. Metode Analisis kuantitatif, yaitu metode atau cara yang ditempuh dalam rangka mengumpulkan, menyusun (mengatur), menganalisis dan memberikan penafsiran terhadap sekumpulan bahan yang berupa angka.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan bentuk angka statistik dengan presentase melalui rumus sebagai berikut:
P = %
Keterangan:
P = Angka prosentase yang dicari
F = Frekuensi yang sedang dicari prosentasenya
N = Number of Cases (jumlah frekuensi/ banyaknya individu)20

Metode ini digunakan setelah peneliti memperoleh data dari hasil angket siswa. Data dalam angket tersebut akan diolah menjadi tabel frekuensi dan angka-angka prosentase, yaitu dengan cara memberikan penilaian pengukuran pada tiap soal atau jawaban angket. Hasil prosentase dari jawaban angket tersebut akhirnya dapat memberikan jawaban permasalahan dan deskripsi hasil usaha yang di capai yaitu usaha guru agama dalam meningkatkan motivasi belajar siswa pada bidang studi PAI.

Landasan Teori

    1. Tinjauan tentang Motivasi Belajar
    1. Pengertian Motivasi Belajar.
Keberhasilan suatu proses kegiatan belajar mengajar bukan hanya ditentukan oleh faktor intelektual, tetapi juga faktor-faktor yang non-intelektual, termasuk salah satunya ialah motivasi.21 Dalam Islam kata motivasi lebih dikenal dengan istilah niat yaitu dorongan yang tumbuh dalam hati manusia yang menggerakkan untuk melakukan suatu aktivitas tertentu dalam niat ada ketergantungan antara niat dengan perbuatan, dalam arti jika niat baik maka imbasnya juga baik dan sebaliknya.
Menurut W. S. Winkel motivasi belajar dapat diartikan sebagai keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar demi mencapai satu tujuan.22
Motivasi juga dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik akan menunjukkkan hasil yang baik. Dengan kata lain bahwa dengan adanya usaha yang tekun dan terutrama didasari adanya motivasi, maka seorang yang belajar itu akan mendapat prestasi yang baik. Intensitas motivasi seorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya.
Crow dan Crow memperjelas pentingnya motivasi dalam belajar sebagai berikut:
Belajar harus diberi motivasi dengan berbagai cara sehingga minat yang dipentingkan dalam belajar itu di bangun dari minat yang telah ada pada diri anak.”23


Menurut A. Tabrani, pada garis besarnya motivasi mengandung nilai-nilai sebagai berikut:
  • Motivasi menentukan tingkat keberhasilan atau kegagalan perbuatan belajar siswa. Belajar tanpa adanya motivasi sulit untuk berhasil.
  • Pengajaran yang bermotivasi pada hakekatnya adalah pengajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan, dorongan, motif dan minat yang ada pada siswa. Pengajaran yang demikian sesuai dengan tuntutan demokrasi dalam pendidikan.
  • Pengajaran yang bermotivasi menurut kreatifitas dan imajinitas pada guru untuk berusaha secara sungguh-sungguh mencari cara-cara yang relevan dan serasi guna membangkitkan dan memelihara motivasi belajar pada siswa. Guru senantiasa berusaha agar siswa pada akhirnya mempunyai motivasi yang baik.
  • Berhasil atau tidaknya dalam menumbuhkan dan menggunakan motivasi dalam pengajaran erat kaitannya dengan pengaturan dalam kelas.
  • Asas motivasi menjadi salah satu bagian yang integral dari asas- asas mengajar. Penggunaan motivasi dalam mengajar tidak saja melengkapi prosedur mengajar, tetapi juga menjadi faktor yang menentukan pengajaran yang efektif. Dengan demikian, penggunaan asas motivasi sangat esensial dalam proses belajar mengajar.24

Motivasi belajar di sekolah dibedakan menjadi 2 bentuk yaitu :
1. Motivasi Intrinsik, yaitu kegiatan belajar dimulai dan diteruskan, berdasarkan penghayatan suatu kebutuhan dan dorongan yang secara mutlak berkaitan dengan aktifitas belajar siswa. Motivasi ini tumbuh dari dalam diri anak sendiri oleh karena itu motivasi ini sering di sebut motivasi murni atau motivasi yang sebenarnya. Misal: siswa yang tekun belajar karena ingin memperoleh ilmu pengetahuan.
Meskipun dalm motivasi instrinsik ini siswa mempunyai kemandirian dalam belajar, tetapi guru tetap harus berusaha menjaga kondisi ini, terutama untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.
    1. Motivasi Ekstrinsik, yaitu aktifitas belajar dan diteruskan berdasarkan kebutuhan dan dorongan yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktifitas belajar sendiri. Misal: siswa rajin belajar untuk memperoleh hadiah yang telah dijanjikan kalau berhasil baik. 25
Namun demikan, motivasi belajar yang bersifat eksternal ini tidak selamanya tidak baik bagi siswa, tetapi tetap penting dan dibutuhkan oleh siswa karena keadaan siswa yang dinamis dan tidak selalu stabil. Di sini peranan guru sangat menentukan untuk memberi motivasi sehingga timbul dorongan belajarnya atau bahkan meningkat dengan adanya usaha guru tersebut.
    1. Motivasi belajar Agama Islam
Untuk mengetahui motivasi belajar PAI, terlebih dahulu penulis sampaikan beberapa hal yang mendorong anak beragama. Hal ini untuk memberi dalam menjelaskan motivasi belajar agama.
Dalam buku Pengalaman Motivasi Beragama dikutipkan bahwa setiap tingkah laku, termasuk tingkah laku beragama dipengaruhi 3 faktor :
  1. Faktor gerak atau dorongan secara spontan dan alamiah terjadi pada diri manusia.
  2. Faktor kekuatan manusia sebagai inti pusat kepribadian.
  3. Faktor situasi manusia atau lingkungan hidup.26
Namun demikian dalam buku tersebut ditegaskan bahwa teori tingkah laku yang seperti diatas sepertinya sangat umum, dan monistis sebab tidak ada tempat untuk konfrontasi dengan dunia luar.27 Terlebih dalam kaitannya motivasi beragama sebab kenyataan orang yang bertingkah laku agama banyak juga didasari oleh unsur hidayah sehingga analisis psikologi dan sosiologi hanya sampai pada analisis tingkah laku fungsional.
Selanjutnya untuk mengetahui beberapa motif yang mendasari kegiatan belajar agama, penulis kitipkan beberapa pendapat ahli psikologi dan pendidikan dibawah ini :
  1. Menurut Arden N. Fandsen menyebutkan bahwa yang mendorong belajar itu ialah :
    1. Adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang luas
    2. Adanya sifat yang kreatif pada manusia yang selalu maju dan berkembang.
    3. Keinginan untuk mendapat simpati orang tua, guru dan teman-temannya.
    4. Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan yang lalu dengan usaha yang baru, baik dengan koperasi maupun dengan kompetisi.
    5. Adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman jika menguasai pelajaran
    6. Adanya ganjaran dan hukuman sebagai akhir dari belajar.

  1. Thorndike melihat hubungan motivasi dan law of effect, dalam hukum belajar tersebut pembuatan belajar diulangi karena :
    1. Interest, motivasi belajar karena tertarik akan pelajaran bagi diri.
    2. Significance, pelajaran itu berguna bagi diri.
    3. Improvement, tertarik pada usaha memperbaiki diri
    4. Problem attitude, karena mengalami problem dalam diri lalu ingin memperbaiki dengan jalan belajar.
    5. Attentiveness, ingin ikut serta dalam hal yang dipelajari.28
Kalau pendapat para ahli di atas dikaitkan dengan motivasi belajar agama, maka dapat di tarik kesimpulan bahwa di antara yang dapat sebagai motivasi belajar agama Islam :
  1. Belajar agama untuk memenuhi keinginan mendapat simpati orang tua.
  2. Belajar agama untuk memenuhi tuntutan kebutuhan dasar.
  3. Belajar agama untuk memenuhi tuntutan jiwa mendapat rasa aman dan tentram.
  4. Belajar agama untuk memenuhi keinginan masyarakat dan kreatifitas yang ada pada diri.
  5. Belajar agama untuk mendapat ganjaran dan penghormatan.
  6. Belajar agama karena agam itu berguna.
  7. Belajar agama karena ingin kepribadian bertingkah laku secara agama.29
    1. Peranan Guru Agama Islam sebagai Motivator
Peranan guru sebagai motivator ini sangat penting artinya dalam rangka meningkatkan kegairahan dan pengembangan kegiatan
belajar siswa. Guru harus dapat merangsang dan memberikan dorongan reinforcement untuk mendinamisasikan potensi siswa, menumbuhkan swadaya (aktivitas) dan daya cipta (kreatifitas), sehingga akan terjadinya dinamika dalam proses belajar mengajar. 30
Berkaitan dengan pentingnya guru sebagai motivator Drs. Slameto Menjelaskan:
Guru hanya merupakan salah satu diantara berbagai sumber dan media belajar. Maka dengan demikian peranan guru dalam belajar ini menjadi lebih luas dan lebih mengarah kepada peningkatan motivasi belajar anak. Melalui perannya sebagai pengajar, guru diharapkan mampu mendorong anak untuk senantiasa belajar dalam berbagai kesempatan melalui berbagai sumber dan media”.31

Dengan demikian, maka jelaslah bahwa guru agama perlu meningkatkan perannya sebagai motivator, yakni sebagai pendorong agar siswa melakukan kegiatan belajar agama Islam, dengan menciptakan kondisi kelas yang dapat merangsang siswa untuk melakukan kegiatan belajar agama, baik secara individual maupun secara kelompok.
Untuk dapat berperan sebagai motivator, guru agama harus memiliki kemampuan tertentu, baik sebagai guru maupun sebagai
motivator, syarat yang harus dimiliki oleh guru agama di antaranya adalah:
  1. Syarat formil : mempunyai ijazah PGA, sehat jasmani dan rohani, tidak memiliki cacat yang menyolok, memiliki pengetahuan agama yang mendalam, bertaqwa dan berakhlak mulia, warga negara yang baik dan di angkat oleh pejabat yang berwenang.
  2. Syarat materiil : memiliki pengetahuan agama Islam secara luas, menguasai didaktik dan metodik, memiliki ilmu methodologi pengajaran, memiliki pengetahuan pelengkap terutama yang ada hubungannya dengan profesinya.
  3. Syarat non formil : mengamalkan ajaran agama, berkepribadian yang muslim, memiliki sikap demokratis, tenggang rasa, bersikap positif terhadap ilmu, disiplin. Berinisiatif dan kreatif, kritis, objektif, menghargai dan waktu serta produktif.32
Selain itu guru juga harus mempunyai kompetensi sebagai berikut:
        1. Kompetensi dalam kepribadian, guru hendaknya mempunyai kepribadian keguruan dan mengembangkan terus sehingga dapat terampil dalam mengenal dan memahami potensi dan harkat tiap individu dalam membina situasi interaksi sosial guru, murid dan
dalam membina perasaan saling hormat menghormati dan bertanggung jawab.
        1. Kompetensi atas penguasaan bahan pengajaran, yaitu penguasaan yang mengarah kepada spesialisasi atas ilmu/ kecakapan yang akan diajarkan serta penguasaan atas bahan pendalaman aplikasi bidang studi.
        2. Kompetensi dalam cara mengajar, khususnya dalam merencanakan dan menyusun satuan pelajaran, menggunakan dan mengembangkan media pendidikan dan kemampuan dalam menggunakan metode sehingga menjadi efektif.33
Nana Sudjana menegaskan beberapa syarat yang harus dimiliki guru dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang motivator belajar yaitu:
              1. Menjalin hubungan baik dan harmonis dengan siswa agar kepatuhan dan kepercayaan pada guru tertanam pada siswa.
              2. Kaya akan berbagai bentuk dan jenis upaya untuk melakukan motivasi pada siswa baik yang bersifat intrinsik maupun yang bersifat ekstrinsik.
              3. Mempunyai perasaan humor yang positif dan normatif sehingga tetap disegani dan disenangi siswa.
              4. Menampilkan sosok kepribadian guru yang menjadi panutan siswa, baik dalam prilaku di kelas maupun di luar kelas.34
    1. Cara Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa
Mengupayakan agar motivasi belajar siswa lebih meningkat sangat penting artinya karena akan mempengaruhi kelangsungan kegiatan belajar mengajar. Tugas guru adalah memotivasi siswa untuk belajar, demi tercapainya tujuan yang diharapkan.
Kegiatan belajar akan tercipta apabila motivasi belajar yang ada di dalam diri siswa itu akan memperkuat ke arah tingkah laku tertentu (belajar). Adapun motivasi dapat ditumbuhkan dengan cara:
  • Membangkitkan suatu kebutuhan, yaitu kebutuhan untuk menghargai suatu keindahan, untuk mendapat penghargaan dan sebagainya;
  • Menghubungkannya dengan pengalaman-pengalaman yang lampau;
  • Memberikan kesempatan untuk mendapatkan hasil yang baik, knowing success like success atau mengetahui sukses yang diperoleh individu itu, sebab sukses akan menimbulkan rasa puas.35
Guru juga dapat menggunakan bermacam-macam motivasi agar siswa dapat belajar dengan baik. Adapun cara yang digunakan guru untuk meningkatkan motivasi belajar siswa antara lain:
  1. Memberi angka
Angka dalam hal ini sebagai simbol dari nilai kegiatan belajarnya. Banyak siswa yang belajar untuk mencapai angka/ nilai baik dan untuk itu berusaha segenap tenaga. Angka yang baik itu bagi mereka merupakan motivasi yang kuat.
  1. Memberi hadiah/ reward
Hadiah memang dapat membangkitkan motivasi bila setiap orang mempunyai harapan untuk memperolehnya.
  1. Menciptakan kompetisi
Kompetisi atau saingan baik kompetensi yang bersifat individual maupun kelompok dapat digunakan sebagai alat untuk mendorong belajar siswa.
  1. Menunjukkan pentingnya tugas
Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras adalah sebagai salah satu bentuk motivasi belajar yang cukup penting.
  1. Memberikan ulangan
Para siswa akan menjadi giat belajar kalau mengetahui akan ada ulangan,oleh karena itu memberi ulangan ini juga merupakan sarana motivasi.
  1. Memberitahukan hasil yang telah dicapai
Pekerjaan yang segera diketahui hasilnya akan membawa pengaruh yang besar bagi siswa untuk lebih giat lagi dalam belajar, apalagi kalau terjadi kemajuan, siswa akan bersemangat untuk belajar dengan harapan hasil dari belajarnya akan terus meningkat dan berhasil dengan baik.
  1. Memberi pujian dan hukuman
Siswa yang sukses dan berhasil menyelesaikan tugas dengan baik, perlu di beri pujian. Pujian ini adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus motivasi yang baik.Dengan adanya pujian yang diberikan secara tepat akan memupuk suasana belajar yang menyenangkan dan menumbuhkan gairah belajar pada siswa.
  1. Hukuman
Hukuman sebagai reinforcement yang negatif kalau diberikan secara tepat dan bijak dapat menjadi alat motivasi. Oleh karena itu, guru harus memahami prinsip-prinsip pemberian hukuman.
  1. Menumbuhkan hasrat untuk belajar
Hasrat untuk belajar berarti pada diri anak didik itu memang ada motivasi untuk belajar, sehingga akan menjadikan hasil yang lebih baik.
  1. Minat
Motivasi sangat erat kaitannya dengan unsur minat. Motivasi muncul karena ada kebutuhan dan minat adalah merupakan alat motivasi yang pokok. Proses belajar akan berjalan lancar kalau disertai minat.36
Guru juga dapat mengembangkan motivasi belajar pada siswa di dalam kelas yaitu dengan cara:
a. Motivasi tugas
Motivasi tugas adalah motivasi yang ditimbulkan oleh tugas-tugas yang ditetapkan baik oleh guru maupun oleh siswa. Siswa yang memiliki motivasi tugas menunjukkan keterlibatan dan ketekunan yang tinggi dalam menyelesaikan tugas- tugas belajarnya.
b. Motivasi aspirasi
Motivasi aspirasi yang tinggi tumbuh dengan subur kalau siswa memiliki perasaan sukses. Perasaan gagal dapat meghancurkan aspirasi siswa dalam belajar. Oleh karena itu, konsep yang harus ditanam oleh guru kepada siswa adalah bahwa kesuksesan atau kegagalan itu ditentukan oleh sebuah usaha bukan oleh kemampuan atau kecerdasan.
c. Motivasi afiliasi
Motivasi afiliasi adalah dorongan untuk melaksanakan kegiatan belajar dengan sebaik-baiknya, karena ingin diterima dan diakui oleh orang lain. Dalam hal ini, guru di tuntut untuk memberikan perhatian penuh terhadap peningkatan usaha dan hasil belajar yang ditampilkan oleh siswa.
d. Motivasi penguatan
Motivasi ini dapat ditimbulkan melalui diagram kemajuan belajar siswa, memberikan komentar setiap kertas ulangan dan pemberian penghargaan. Guru hendaknya menjauhi pemahaman bahwa pemberian angka/ nilai sebagai sumber utama dalam meningkatkan motivasi penguatan, karena menitikberatkan pada pemberian angka dalam memotivasi belajar siswa akan menimbulkan persaingan yang tidak sehat di dalam kelas.
e. Motivasi yang diarahkan oleh diri sendiri
Motivasi yang diarahkan oleh diri sendiri sangat berkesan dalam meningkatkan belajar siswa, karena siswa akan menunjukkan tingkah laku yang mandiri dalam belajar. Dengan demikian, guru hanya perlu memberikan pelayanan yang sesuai dengan tuntutan aktifitas belajar siswa.37
Dengan demikian, jelaslah bahwa banyak sekali cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Hanya yang penting bagi guru adanya bermacam-macam motivasi itu dapat dikembangkan dan diarahkan untuk dapat melahirkan hasil belajar yang bermakna.

    1. Tinjauan tentang Posisi Guru Agama Islam
Guru adalah merupakan salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan. Oleh karena itu, guru harus berperan aktif dalam menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional, sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang.38
Menurut Zuhairini dkk guru agama Islam merupakan pendidik yang mempunyai tanggung jawab dalam membentuk kepribadian Islam anak didik, serta bertanggung jawab terhadap Allah Swt. Dia juga membagi tugas guru agama Islam sebagai berikut:
  1. Mengajarkan ilmu pengetahuan Islam
  2. Menanamkan keimanan dalam jiwa anak.
  3. Mendidik anak agar taat menjalankan agama.
  4. Mendidik anak agar berbudi pekerti yang mulia.39
Dengan mengambil pengertian diatas maka yang dimaksud guru agama Islam adalah seorang yang bertanggung jawab dalam melaksanakan pendidikan agama Islam dan pembentukan pribadi anak yang sesuai dengan ajaran Islam dan juga bertanggung jawab terhadap Allah Swt.
Pekerjaan jabatan seorang guru agama Islam adalah luas yaitu untuk membina seluruh kemampuan-kemampuan dan sikap-sikap yang baik dari siswa sesuai ajaran Islam.
Dalam buku CBSA, Nana Sudjana menyebutkan bahwa tugas guru itu meliputi:
          1. Guru sebagai pengajar lebih menekankan kepada tugas dalam merencanakan pengajaran. Dalam tugas itu guru dituntut untuk memiliki seperangkat pengetahuan dan keterampilan, teknis mengajar, menguasai ilmu atau bahan yang akan diajarkan.
          2. Guru sebagai pembimbing memberi tekanan kepada tugas, memberikan bantuan kepada siswa dalam pemecahan masalah yang dihadapinya. Tugas ini merupakan aspek mendidik, sebab tidak hanya berkenaan dengan penyampaian ilmu pengetahuan tetapi juga menyangkut pengembangan kepribadian dan pembentukan nilai-nilai para siswa.
          3. Guru sebagai administrator kelas pada hakekatnya merupakan jalinan antara pelaksanaan bidang pengajaran dan pelaksanaan pengajaran pada umumnya.40
Menurut Claife, guru adalah pemegang hak otoritas atas cabang-cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pendidikan. Walaupun begitu guru tidak hanya memuaskan ilmu pengetahuan pada siswa, tetapi juga melatih ketrampilan (ranah karsa) dan menanamkan sikap serta nilai (ranah rasa) pada siswa. 41
Sehubungan dengan hal itu rangkaian tujuan dan hasil yang harus dicapai guru adalah membangkitkan gairah belajar siswa. Dengan demikian siswa diharapkan berhasil mengubah tingkah lakunya ke arah yang lebih maju dan positif. Hal ini sesuai dengan rumusan tujuan PAI yang mengandung pengertian bahwa proses PAI yang dilalui dan di alami oleh siswa di sekolah di mulai dari tahapan kognisi, yakni pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap ajaran dan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam, untuk selanjutnya menuju ke tahapan afeksi, yakni terjadinya proses internalisasi ajaran dan nilai agama ke dalam diri siswa, dalam arti menghayati dan meyakininya. Tahapan afeksi ini erat kaitannya dengan kognisi, dalam arti penghayatan dan keyakinan siswa menjadi kokoh jika dilandasi oleh pengetahuan dan pemahamannya terhadap nilai-nilai agama Islam, melalui tahapan afeksi tersebut diharapkan dapat tumbuh motivasi dalam diri siswa.42
Dengan demikian, jelas bahwa posisi guru agama dalam proses pembelajaran PAI, sangat berperan dalam meningkatkan mutu pendidikan bagi siswa sehingga proses belajar mengajar akan berhasil sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
    1. Tinjauan tentang Hasil Belajar
Evaluasi hasil belajar PAI adalah merupakan penilaian terhadap tingkat keberhasilan belajar siswa dalam mencapai tujuan-tujuan pendidikan agama Islam sebagaimana telah ditetapkan GBPP pendidikan agama Islam. Dengan demikian, baik siswa maupun guru agama Islam senantiasa meningkatkan usaha-usaha untuk mencapai tujuan yang dimaksud. 43
Adapun fungsi dari evaluasi hasil belajar adalah sebagai berikut:
    1. Memberikan umpan balik(feed back)
Dalam upaya peningkatan hasil belajar siswa dan dengan adanya penilaian terhadap guru PAI, maka penilaian terhadap hasil belajar siswa merupakan umpan balik yang sangat berharga.
Dengan hasil evaluasi yang diperoleh itu siswa mengoreksi dirinya, baik dalam hal cara dan kesungguhan belajar maupun dalam hal waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar dan hasil yang dicapai.
    1. Menentukan hasil kemajuan belajar siswa
Evaluasi hasil belajar juga dapat memberikan gambaran tentang keberhasilan siswa dalam semua aspek.
    1. Mengenal latar belakang psikologis, fisik dan lingkungan siswa, terutama yang mengalami kesulitan belajar (diagnostik).44
Berdasarkan fungsi-fungsi evaluasi belajar diatas, maka jelas bahwa salah tugas pokok seorang guru selain sebagai motivator dan pembimbing, ia juga mempunyai tugas untuk mengevaluasi taraf keberhasilan rencana dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Tujuan diadakannya evaluasi ini adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana tingkat kemampuan dan keberhasilan siswa dalam pencapaian tujuan-tujuan kurikuler, dan untuk mengukur sampai di mana efektifitas pengalaman-pengalaman mengajar, kegiatan belajar mengajar serta metode mengajar PAI yang digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. 45
Menurut Muhaimin, kualitas proses belajar mengajar pendidikan agama dapat di ukur dari hasil belajar yang di capai. Adapun hasil belajar itu dapat diklasifikasikan menjadi keefektifan, efisiensi, dan dan daya tarik. Keefektifan belajar dapat di ukur dengan kriteria kecermatan penguasaan kemampuan, kecepatan kerja sebagai bentuk hasil belajar dan kualitas hasil belajar. Sedang efisiensi belajar dapat di ukur dengan rasio antara keefektifan dengan jumlah waktu yang digunakan. Selanjutnya daya tarik dalam belajar biasanya di ukur dengan mengamati kecenderungan siswa untuk berkeinginan terus belajar.
Namun demikian, hasil suatu proses belajar mengajar PAI , tidak semua berupa hasil nyata yang dapat di ukur langsung setelah kegiatan
belajar mengajar berakhir, terutam hasil belajar pada ranah afektif (sikap), seperti tumbuhnya kesadaran beragama yang mendalam sehingga beragama menjadi kebutuhan hidupnya. Ranah afektif merupakan hasil proses belajar mengajar pendidikan agama yang terbentuk secara kumulatif dalam waktu yang relatif lam dan merupakan integrasi dari hasil sejumlah perlakuan pembelajaran pendidikan agama.46

Tinjauan Pustaka

Sehubungan dengan penelitian ini, ada beberapa skripsi yang membahas tentang motivasi, diantaranya adalah:
Skripsi Hariza Adnani dengan judul Upaya Guru Agama Islam dalam Meningkatkan motif Belajar Pada Peserta Didik di SMAN 3 Ungaran Semarang. Yogyakarta, Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 1995. Penelitian ini menekankan pada peningkatan motif belajar yang diupayakan oleh guru agama, di mana minat dari siswa SMAN 3 Ungaran ini sangat rendah dalam belajar PAI, karena mereka seakan-akan dituntut untuk menyelasaikan materi-materi eksak dan pelajaran umum, sehingga belajar PAI di sekolah hanya menjadi sebuah formalitas saja.
Di samping itu, skripsi Zulaikhah dengan judul Upaya Guru Dalam Memotivasi Belajar Bahasa Arab pada Siswa MTs Mujahidin Ngadiluwuh Kediri. Yogyakarta, Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 1994.

Penelitian ini menekankan pada bagaimana usaha yang dilakukan oleh guru bahasa Arab untuk menumbuhkan minat belajar dalam proses pembelajaran bahasa Arab.
Selanjutnya Skripsi Nur`aini dengan judul Motivasi Siswa dalam Belajar di Ponpes Bahrul Ulum Krakasan Probolinggo. Yogyakarta, Fak. Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,1999. Penelitian ini menekankan pada motivasi siswa belajar di Ponpes Bahrul Ulum Probolinggo, baik motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik, serta usaha-usaha guru dalam menumbuhkan motivasi belajar pada siswa.
Sedangkan judul penelitian Usaha Guru Agama Islam Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar PAI Pada Siswa SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat peneliti menekankan pada usaha yang dilakukan oleh guru agama dalam meningkatkan dan mengembangkan minat belajar PAI pada siswa SLTPN 3 Kuningan, sehingga diharapkan dengan adanya peningkatan motivasi belajar terhadap mata pelajaran agama Islam, siswa akan terdorong untuk lebih bergairah dalam mengikuti mata pelajaran agama dan siswa juga akan dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-harinya.

Sistematika Pembahasan

Untuk meudahkan dalam mengkaji dan mengkaji dan memahami secara keseluruhan skripsi ini peneliti akan menguraikan tentang sistematika pembahasan sebagai berikut:
    1. Bagian Pendahuluan
Bagian ini meliputi: halaman judul, halaman motto, kata pengantar, daftar isi dan daftar tabel.
Bab I: Pendahuluan yang meliputi: penegasan judul, latar belakang masalah, rumusan masalah, alasan pemilihan judul, tujuan dan kegunaan penelitian, tinjauan pustaka metode penelitian, landasan teori serta sistematika pembahasan skripsi.
    1. Bagian Isi
Bagian isi meliputi:
Bab II yang berisi gambaran umum tentang SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat yang terdiri atas letak geografis, sejarah singkat berdirinya, struktur organisasi, keadaan guru, karyawan dan siswa serta keadaan sarana prasarana.
Bab III yang meliputi kegiatan guru agama Islam dalam meningkatkan motivasi belajar PAI pada siswa di SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat yang terdiri atas: pembahasan tentang pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada bidang studi PAI, motivasi belajar siswa pada bidang studi PAI, peningkatan motivasi belajar siswa pada pada bidang studi PAI oleh guru agama Islam, serta hasil upaya guru Agama Islam dalam meningkatkan motivasi belajar siswa SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat.
3. Bagian penutup
Bab ini adalah merupakan bab IV atau penutup yang terdiri dari: kesimpulan, saran- saran, dan kata penutup. Pada bagian akhir juga dicantumkan daftar pustaka dan lampiran-lampiran.
========================================================================
BAB III
KEGIATAN GURU AGAMA ISLAM DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PAI
PADA SISWA SLTPN 3 KUNINGAN JAWA BARAT

Motivasi adalah dorongan yang timbul dari dalam jiwa seseorang untuk melakukan tindakan dengan sadar guna memenuhi satu kebutuhan atau mencapai suatu tujuan sehingga besar sekali peranan motivasi dalam upaya peningkatan pengembangan kegiatan belajar mengajar khususnya bidang studi PAI bagi siswa SLTPN 3 Kuningan jawa Barat.
Mengingat bahwa peranan motivasi berlangsung terus-menerus (continue), maka untuk mencapai tujuan dalam PAI, seorang guru agama Islam dituntut untuk mampu mengarahkan dan membimbing para siswa dalam meningkatkan motivasi belajarnya. Artinya siswa belajar PAI tidak hanya untuk meraih prestasi atau nilai saja, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan rohani.
Selanjutnya pada bab ini penulis akan membahas tentang:
  1. Pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar PAI Siswa SLTPN 3 Kuningan
  2. Motivasi Belajar PAI pada Siswa SLTPN 3 Kuningan
  3. Peningkatan Motivasi Belajar Siswa pada Bidang Studi PAI oleh Guru Agama Islam
  4. Hasil Usaha Guru Agama Islam dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa pada Bidang Studi PAI

Pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar

Dalam proses pelaksanaan kegiatan belajar mengajar tentu harus di dukung oleh beberapa hal seperti guru, materi, murid, sarana dan prasarana serta lingkungan. Sehingga tanpa ada salah satu unsur pendukung tersebut maka kegiatan belajar mengajar di sekolah tidak akan terselenggara secara optimal.
Kegiatan belajar mengajar pada dasarnya adalah merupakan interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dengan siswa dalam situasi pendidikan, yaitu ada unsur take and give (memberi dan menerima), baik bagi guru maupun bagi siswa itu sendiri.
Proses interaksi belajar mengajar pada prinsipnya sangat bergantung pada guru dan siswa. Oleh karena itu, guru dalam mengajar dituntut kesabaran, keuletan dan sikap terbuka di samping kemampuan dalam situasi belajar mengajar yang lebih aktif. Demikian juga dari siswa dituntut adanya semangat dan dorongan untuk belajar.
Untuk itu dalam sub bab ini akan dibahas sebagai berikut:
  1. Keadaan guru agama Islam
Dalam proses kegiatan belajar mengajar, guru mempunyai kedudukan sebagai figur sentral, di tangan para gurulah letak keberhasilan pencapaian tujuan belajar mengajar.
Guru dewasa ini berkembang sesuai dengan fungsinya, membina untuk mencapai tujuan pendidikan. Lebih- lebih dalam sistem sekolah
yang terus berkembang, profesionalisme guru seperti pengetahuan, kecakapan, keterampilan menjadi perhatian yang serius, karena bagaimanapun baiknya kurikulum, administrasi dan kelengkapan fasilitas, tanpa diimbangi dengan peningkatan kualitas guru- gurunya tidak akan mendapatkan hasil sesuai dengan tujuan pendidikan. Oleh karena itu, peningkatan kualitas guru menjadi seorang tenaga pengajar yang professional adalah unsur yang sangat penting untuk pembaruan dalm dunia pendidikan.
Adapun dalam pembahasan mengenai guru agama Islam di SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat akan disampaikan tentang jumlah guru agama Islam, latar belakang pendidikan, kemampuan dalam memotivasi, metode yang digunakan guru agama dalam mengajar serta materi yang disampaikan.
  1. Jumlah guru PAI
Guru agama yang mengajar di SLTPN 3 Kuningan ada 2 orang yaitu:
    1. Arifuddin, S. Ag.
    2. Udin Syamsudin, S. Ag.
Untuk pembagian tugasnya yaitu bapak Arifuddin mengajar kelas I dan kelas II sedangkan bapak Udin Syamsudin mengajar di kelas I dan kelas III.47
Dalam dunia pendidikan, baik bapak Arifudin maupun bapak Syamsudin, keduanya telah memiliki cukup pengalaman mengajar.
  1. Latar Belakang Pendidikan
Latar belakang pendidikan guru agama Islam, penulis bahas sebagai salah satu aspek untuk melihat kompetensi guru agama Islam dalam memotivasi belajar agama Islam karena penulis menganggap bahwa kemampuan akademis yang dimiliki guru secara teoritis akan mewarnai corak dan keberhasilan guru dalam menerapkan berbagai upaya dalam meningkatkan motivasi belajar agama Islam pada siswa.
Anggapan ini berangkat dari keyakinan bahwa suatu pekerjaan itu akan berhasil dan semakin efektif jika dikerjakan oleh orang yang memiliki keahlian dalam pekerjaan tersebut.
Demikian halnya, peneliti juga mendasarkan pada syarat-syarat yang di tentukan bagi seorang guru yang secara khusus harus memiliki syarat formal dari pendidikan guru bidang studi yang bersangkutan.
Mengenai latar belakang pendidikan, kedua guru agama Islam di SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat ini adalah lulusan dari STAI Cigugur Kuningan Jawa Barat. Dengan demikian, keduanya telah memenuhi salah satu syarat akademis sebagai seorang guru agama Islam khususnya.48
  1. Kepribadian dan Pengetahuan
Kepribadian adalah merupakan salah satu yang harus di miliki guru, terutama kepribadian yang baik, yang akan sangat berpengaruh dan dapat menjadi suatu motivasi dalam proses belajar mengajar. Hal ini karena dengan kepribadian yang baik berarti guru lebih memungkinkan untuk mengupayakan motivasi belajar agama pada siswa.
Demikian pula, guru dalam memotivasi belajar agama di tuntut agar memiliki pengetahuan yang luas terhadap pemahaman agama Islam. Dengan demikian guru dapat memberikan materi pelajaran agama Islam mendasar yang dapat dijadikan sebagai kunci utama yang digunakan oleh siswa dalam mempelajari ilmu agama secara luas.
Berdasarkan data yang penulis peroleh dari hasil observasi, guru agama Islam di SLTPN 3 Kuningan ini selalu menunjukkan kepribadian dan pengalaman yang cukup baik terutama di sekolah yang dapat dijadikan contoh (suri tauladan).
Dengan adanya kepribadian yang abik dan pengetahuan yang luas yang dimiliki oleh guru agama, akan lebih memungkinkan untuk mengupayakan peningkatan motivasi belajar pada siswa.
  1. Kemampuan dalam memotivasi
Guru agama Islam sebagai seorang motivator hendaknya juga mengetahui dan dapat memilih cara yang efektif untuk meningkatkan motivasi belajar agama pada siswa. Dengan demikian guru akan mampu menerapkan dan menentukan cara yang sesuai dengan perbedaan individual maupun kejiwaan serta kebutuhan siswa.
Untuk mengetahui kemampuan guru agama di SLTPN 3 Kuningan dalam meningkatkan motivasi belajar siswa dapat dilihat dari berbagai data berikut hasil wawancara dengan guru agama yang bersangkutan menunjukkan bahwa dalam upaya peningkatan motivasi belajar agama, guru agama mengupayakan berbagai cara yaitu dengan memberi tugas hafalan, menciptakan kondisi persaingan, dengan menumbuhkan minat belajar melalui proses belajar siswa aktif (diskusi, tanya jawab dan praktek ibadah). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa guru agama Islam telah memiliki kemampuan dalam memotivasi siswa untuk giat belajar agama.
  1. Siswa
Siswa di SLTPN 3 Kuningan seluruhnya berjumlah 950 siswa, siswa yang beragama Islam seluruhnya 931 siswa, dan non Islam 19 orang. Dari jumlah 931 siswa yang beragama Islam tersebut terbagi jumlah 21 kelas.
Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa yang beragama Islam mencapai 98 % dan siswa yang beragama non Islam hanya 2 %.49 Adapun dalam kegiatan belajar mengajar PAI, siswa yang non muslim dipersilahkan memilih untuk mengikuti proses pembelajaran atau belajar sendiri diperpustakaan.
  1. Materi yang disampaikan
Mengenai materi PAI, dari hasil wawancara, materi yang disampaikan adalah sesuai dengan kurikulum dan buku yang dijadikan sebagai pegangan mengajar PAI untuk SLTP, baik kelas l, ll, lll, diterbitkan oleh Depag RI dan buku penunjang yaitu LKS yang berfungsi sebagai latihan bagi siswa.
  1. Metode
Metode yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah tergantung pada materi yang disampaikan dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi dalam setiap pokok ajaran yang disampaikan.
Metode pembelajaran yang digunakan oleh guru agama Islam di SLTPN 3 Kuningan telah direncanakan dan diaplikasikan secara maksimal dalam proses belajar mengajar di kelas. Namun demikian metode yang sering digunakan dalam proses pembelajaran di sekolah adalah ceramah, tanya jawab, diskusi dalam kelompok kecil dan penugasan.
Selain itu guru agama Islam juga menggunakan metode yang sesuai dalam upaya peningkatan motivasi belajar siswa yaitu dengan diadakannya kegiatan- kegiatan Islami.50
  1. Sarana prasarana
Sarana yang mendukung tercapainya tujuan pendidikan agama Islam diantaranya adalah mushalla yang berada di lingkungan sekolah yang berguna bagi siswa untuk mengenal lebih jauh tentang fungsi mushalla sebagai sarana tempat beribadah. Di samping itu sekolah juga menyediakan prasarana yang lain berupa buku- buku walaupun belum lengkap yang berkaitan dengan pendidikan agama Islam yang berguna sebagai penunjang bagi siswa dalam menambah ilmu pengetahuan tentang agama Islam.51
  1. Lingkungan
Lokasi SLTPN 3 Kuningan yang berdiri di jalan Pramuka Purwawinangun Kuningan ini berada di lingkungan akademis dan dekat perumahan penduduk serta dekat dengan pondok pesantren. Hal ini sangat berpengaruh karena daerah tersebut aman dan nyaman sehingga mendukung proses belajar mengajar di sekolah.

Motivasi Siswa dalam Belajar Agama Islam di SLTPN 3 Kuningan

Motivasi adalah merupakan salah satu faktor penentu suatu keberhasilan dalam mencapai suatu prestasi. Begitu juga dalam belajar, motivasi sangat mendukung keberhasilan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Berdasar hasil wawancara dengan guru agama motivasi belajar siswa di SLTPN 3 Kuningan ini cukup baik, terbukti bahwa sebagian besar siswa cukup antusias dalam mengikuti mata pelajaran agama Islam walaupun masih ada siswa yang kurang memperhatikan guru ketika mengajar.52
Motivasi dasar siswa belajar agama banyak dilatarbelakangi untuk menambah pengetahuan tentang ajaran Islam, hal ini tampak pada pernyataan dalam table di bawah ini:
TABEL V
Motivasi Belajar Agama Islam Siswa

Item
Alternatif Jawaban
F
%
8
    1. Meningkatkan pengalaman dan memperbaiki diri
    2. Mendapat nilai bagus
    3. Mendapat pujian dan simpati guru
    4. Menambah pengetahuan tentang ajaran agama Islam
15
4
0
45
23,4
6,2
0
70,3

Jumlah
64
100



Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa motivasi belajar agama Islam di SLTPN 3 Kuningan cukup bagus, 70,3% siswa dalam belajar agama Islam bertujuan untuk menambah pengetahuan tentang ajaran Islam, 23% bertujuan untuk meningkatkan pengalaman dan memperbaiki diri dan 6,2% siswa yang belajar PAI bertujuan untuk mendapat nilai bagus.
TABEL VI
Motivasi siswa mengikuti kegiatan
keagamaan di sekolah
Item
Alternatif jawaban
F
%
7
a. Perintah guru
b. Menambah pemahaman ajaran Islam
c. Perintah orang tua
d. Ikut- ikutan saja
6
51
7
0
9,4
79,7
10,9
0

Jumlah
64
100


Hasil angket diatas menunjukkan bahwa sebagian besar siswa (79,7%) dalam motivasi untuk mengikuti kegiatan keagamaan di sekolah adalah untuk menambah pemahaman ajaran Islam.
Selain itu sebagian besar siswa memiliki buku pegangan masing-masing dalam proses belajar mengajar PAI, walaupun tidak memiliki sendiri, seperti data melalui angket pada jawaban item 10, sebanyak 50% siswa sudah memiliki buku sendiri, 35,9% memiliki tapi meminjam kakak kelas, 7,8% memiliki tapi meminjam dari perpustakaan dan 6,3% tidak memiliki.
Adapun dalam belajar PAI, berdasar pengamatan dan angket siswa, kebanyakan siswa merasa malas belajar untuk belajar agama Islam kalau tidak ada ulangan, sebagaimana tabel berikut ini:

TABEL VII

Perasaan Malas Belajar PAI

Item
Alternatif Jawaban
F
%
6
a. Tidak pernah
b. kadang-kadang
c. cukup sering
d. sering
12
46
6
0
18,8
71
9,4
0
Jumlah
64
100

Dari table di atas dapat di ketahui bahwa siswa yang tidak pernah merasa malas belajar agama Islam ada 18% dan yang menjawab kadang- kadang hampir 71% sedangkan yang menjawab cukup sering ada 9, 4 % dan untuk yang menjawab sering 0%.

Peningkatan Motivasi belajar Agama pada Siswa

Tujuan Peningkatan Motivasi Belajar Agama pada Siswa
Maksud tujuan dalam usaha meningkatkan motivasi belajar agama adalah rumusan yang telah ditetapkan sebagai gambaran yang jelas yang harus di capai melalui usaha peningkatan motivasi belajar agama pada siswa SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat. Rumusan ini merupakan garis ketentuan maksimal yang seharusnya di capai oleh guru agama Islam dalam aktifitasnya untuk memotivasi siswa agar lebih giat untuk belajar.

Berdasarkan wawancara dengan guru agama, tujuan dari peningkatan motivasi belajar agama pada siswa ini di antaranya adalah:
    1. Memberikan dorongan pada siswa untuk selalu menekuni pelajaran agama Islam baik di kelas maupun di luar sekolah
    2. Menciptakan manusia yang berakhlak mulia, jujur dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan masyarakat.53
Peranan Guru Agama dalam Peningkatan Motivasi Belajar agama Islam
Peranan guru agama dalam usaha memotivasi belajar siswa di SLTPN 3 Kuningan maksudnya adalah sejauh mana hak dan kewajiban serta tugas apa yang harus dilaksanakan oleh guru sebagai motivator dalam meningkatkan motivasi belajar pada siswa.
Kebijaksanaan untuk memotivasi belajar adalah sepenuhnya diserahkan kepada guru agama jadi semua hal yang berkaitan dengan usaha guru dalam meningkatkan motivasi belajar agama baik perencanaan, pelaksanaan maupun penilaiannya menjadi tanggung jawab penuh guru agama Islam.
Guru sebagai seorang motivator di tuntut untuk kreatif, inovatif dan dapat mengikutsertakan peran aktif siswa dalam proses belajar mengajar. Dengan demikian, peran yang dilakukan oleh guru agama dalam meningkatkan motivasi belajar agama pada siswa dapat memberi
kesempatan pada guru untuk memilih, menerapkan dan merencanakan kegiatan yang sesuai dengan kemampuan guru dan kondisi psikologis siswa.
Upaya Guru dalam Peningkatan Motivasi Belajar Agama Islam pada Siswa
    1. Upaya Peningkatan Motivasi Belajar siswa di dalam Kelas (Kegiatan yang bersifat intrakurikuler)
Kegiatan intrakurikuler adalah kegiatan yang dilakukan di sekolah yang mana waktu pelajarannya sudah ditentukan dalam struktur program. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang ingin di harapkan dalam tiap-tiap mata pelajaran.
Dalam peningkatan motivasi belajar, khususnya bidang studi PAI, guru sebagai motivator mempunyai cara- cara yang bertujuan untuk menumbuhkan semangat belajar pada siswa. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru agama, cara-cara yang dilakukan oleh guru agama dalam rangka meningkatkan motivasi belajar pada siswa diantaranya adalah:
  1. Menjelaskan tujuan yang hendak di capai dalam belajar agama Islam
Usaha ini dilakukan dengan cara guru senantiasa menjelaskan bagaimana tujuan sesungguhnya belajar agama pada setiap mengajarkan agama, sehingga dengan adanya penjelasan
mengenai tujuan belajar agama ini, diharapkan siswa akan mampu merealisasikannya dalam kehidupan sehari- hari baik di kelas maupun di luar kelas.
  1. Menumbuhkan Semangat Belajar Agama Islam
Adapun maksud dari menumbuhkan semangat belajar agama Islam di sini adalah bagaimana siswa agar selalu mempunyai keinginan untuk belajar agama.54
Ada beberapa cara yang dilakukan guru agama Islam di SLTPN 3 Kuningan untuk menumbuhkan minat belajar agama yaitu:
  1. Dengan membangkitkan kebutuhan akan belajar agama, yang biasanya dengan menjelaskan tujuan dalam setiap mengajar dengan meyakinkan pada siswa akan pentingnya belajar agama bagi kehidupan.
  2. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru mengadakan apersepsi dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan tentang pelajaran yang telah lalu dan selanjutnya guru menjelaskan bagaimana kaitannya dengan pelajaran yang akan diajarkan cara ini sangat baik dilakukan dalam upaya menumbuhkan minat belajar, dengan demikian siswa akan lebih aktif untuk belajar agama.
  3. Dengan menggunakan metode mengajar yang variatif, maksudnya adalah bahwa dalam setiap mengajar seorang guru agama hendaknya tidak hanya menggunakan salah satu metode, karena hal ini akan membuat siswa merasa jenuh dan malas belajar. Guru harus menggunakan metode variatif, seperti ceramah kemudian diselingi tanya jawab untuk menegaskan apakah ada siswa yang kurang mengerti serta dapat di tambah dengan diskusi baik dengan kelompok kecil maupun besar. Dalam menumbuhkan motivasi belajar agama dengan cara-cara di atas akan banyak membantu dalam mengarahkan kecenderungan siswa untuk belajar agama, meskipun masih ada kesulitan yang dialami oleh guru dalam menghadapi siswa yang kurang memperhatikan dalam pelajaran.
  1. Memberi banyak ulangan dan tugas
Dalam pemberian motivasi belajar dengan cara pengadaan ulang dan tugas ini adalah dimaksudkan agar siswa lebih giat lagi untuk belajar, sebab siswa di tuntut untuk belajar dalam mempersiapkan ulangan yang akan dihadapinya.
Guru agama Islam dalam menerapkan metode ini adalah dengan menggunakan cara- cara sebagai berikut:
  1. Mengadakan evaluasi harian, baik itu berupa tugas maupun ulangan.
Hal ini dilakukan untuk mengetahui sampai sejauh mana siswa mampu memahami dan menguasai mata pelajaran agama yang telah disampaikan oleh guru.
  1. Mengadakan evaluasi tengah semester.
Evaluasi ini adalah merupakan evaluasi yang telah di rencanakan pihak sekolah dan bersifat serempak dilakukan oleh semua guru. Dengan demikian tes ini dilakukan secara resmi sebagaimana evaluasi semester, guru dituntut membuat rencana materi yang akan dievaluasikan, dan dalam pelaksanaannya di bantu oleh guru lain yang bertugas sebagai pengawas.
  1. Mengadakan evaluasi semesteran atau akhir tahun.
Pelaksanaan dari evaluasi akhir tahun ini sama dengan pelaksanaan tes pertengahan semester.
  1. Meningkatkan kesadaran akan pentingnya belajar Agama
Hal ini dilakukan dalam mengupayakan penanaman kesadaran pada siswa SLTPN 3 Kuningan tentang pentingnya belajar ilmu agama.
Dalam peningkatan kesadaran dalam belajar agama pada siswa, upaya- upaya yang dilakukan oleh guru agama di SLTPN 3 Kuningan yaitu:
  1. Mengadakan praktek keagamaan, seperti; siswa secara langsung wudhu, yasinan dan tahlilan.
  2. Guru menjelaskan hikmah dari ajaran Islam pada setiap pelajaran dengan menghubungkan secara langsung dengan kebutuhan hidup di dunia dan pahalanya di akhirat.
Dengan demikian, diharapkan siswa akan lebih menyadari peranan penting belajar agama untuk kehidupan dan menjadikan agama sebagai pedoman hidup.
  1. Menunjukkan prestasi hasil belajar siswa
Dalam meningkatkan motivasi belajar pada siswa cara ini sangat efektif dilakukan agar siswa dapat bersaing dalam melaksanakan kegiatan belajar. Cara ini dilakukan dengan cara memberi nilai raport pada siswa maupun memberi nilai prestasi dari hasil ulangan.
    1. Upaya peningkatan motivasi belajar agama melalui kegiatan ekstra kurikuler
Kegiatan ekstra kurikuler adalah kegiatan yang dilakukan di luar jam kegiatan belajar mengajar yang mana kegiatan tersebut dilakukan di sekolah maupun di luar sekolah, dengan tujuan untuk memperluas pengertian siswa dalam masalah keagamaan dan juga masalah lainnya. Dalam hal ini menyangkut hubungan antar berbagai mata pelajaran juga minat dan semangat siswa untuk mengikutinya, terutama untuk membangun manusia seutuhnya

Dalam meningkatkan motivasi belajar agama Islam pada siswa guru agama di SLTPN 3 Kuningan juga menempuh cara dengan mengadakan kegiatan- kegiatan keagamaan di luar jam sekolah. Dengan diadakannya kegiatan keagamaan ini, selain untuk meningkatkan motivasi belajar juga untuk menambah pengetahuan dan kesadaran pengalaman agama Islam.
Berdasar hasil wawancara, cara- cara yang dilakukan dalam peningkatan motivasi belajar melalui kegiatan ekstra kurikuler adalah:
    1. Shalat berjama`ah
Kegiatan ini diadakan untuk mengembangkan salah satu materi PAI yaitu materi tentang ibadah shalat. Hal pertama yang dilakukan oleh guru agama dalam rangka meningkatkan motivasi belajar siswa dengan mengadakan shalat berjama`ah karena shalat merupakan ibadah yang terpenting dalam ajaran Islam.
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk melatih dan membina siswa yang kurang mampu mengerjakan shalat dengan baik dan benar. kegiatan ini juga bertujuan agar siswa mampu menerapkannya dalam kegiatan sehari-hari. Menurut guru agama, kegiatan shalat berjama`ah ini selain shalat jum`at juga setiap hari terutama shalat dzuhur yang dilaksanakan secara bergiliran setiap kelasnya. Shalat dzuhur berjamaah ini di pimpin oleh salah seorang guru sebagai imam sekaligus penceramah (kultum).

    1. Pengajian rutin hari Jum`at
Kegiatan ini dilaksanakan pada setiap hari Jum`at pagi sebelum di mulainya kegiatan belajar mengajar yaitu jam 06.30-07.15 dan wajib diikuti oleh seluruh siswa dan guru SLTPN 3 Kuningan. Pengajian ini biasanya berisi yasinan, tahlilan dan kajian-kajian Islami yang bertujuan untuk pendalaman dalam pemahaman ajaran agama Islam pada siswa.
    1. Pengajian dalam rangka memperingati hari besar Islam
Menurut wakil kepala sekolah dan guru agama di SLTPN 3 Kuningan setiap hari besar Islam selalu diadakan pengajian terutama pada peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw ataupun Isro Mi’raj. Di mana selain ada pengajian juga diadakan kegiatan bermacam-macam lomba seperti Qiro`ah, cerdas cermat, lomba azan, lomba pidato dan sebagainya. Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memberi bekal hidup bermasyarakat, untuk menambah wawasan keagamaan serta memberi kesegaran belajar agama Islam pada siswa. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan siswa akan terdorong untuk lebih giat belajar dan mengamalkan ajaran Islam.
    1. Pesantren kilat pada bulan Ramadhan
Kegiatan ini rutin dilakukan setiap setahun sekali pada bulan ramadhan. Selain mata pelajaran agama Islam, kegiatan ini
juga berisi pengajian di mana setiap siswa diwajibkan merangkum ceramah, serta adanya bimbingan baca tulis al- Qur`an dan penyelenggaraan lomba- lomba.
    1. Pengumpulan zakat Fitrah
Zakat fitrah ini pengumpulannya di ambil dari siswa dan sebagai pelaksananya adalah siswa itu sendiri dengan bimbingan dan pengawasan guru agama. Adapun tujuan dari pengumpulan zakat fitrah yang dilakukan di sekolah ini adalah untuk memupuk kesadaran siswa agar selalu memperhatikan kaum lemah.55
6) Studi Islam Intensif (SII)
Studi Islam Intensif (SII) adalah suatu kegiatan keagamaan yang diadakan oleh remaja masjid Syiarul Islam Kuningan dimana yang menjadi sasarannya adalah para pelajar yang mana kegiatan ini bertujuan untuk membekali para siswa dalam memahami ajaran Islam. Guru agama Islam di SLTPN 3 kuningan pun melibatkan para siswanya khususnya kelas 3 dianjurkan untuk mengikuti kegiatan ini.

Tanggapan Siswa Terhadap Upaya peningkatan Motivasi Belajar oleh Guru Agama

  1. Tanggapan siswa terhadap kondisi guru agama Islam
Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana sikap dan tanggapan siswa terhadap guru agama yang mengajar di sekolah tersebut yaitu dengan di lihat dari table di bawah ini:
TABEL VIII
Tanggapan siswa terhadap sikap
Guru dalam mengajar

Item
Alat jawaban
F
%
1

a. Sangat baik
b. Cukup baik
c. Kurang baik
d. Tidak baik
11
42
5
0
17,2
75
7,8
0

Jumlah
64
100

Dari tabel diatas dapat di ketahui bahwa tanggapan siswa terhadap sikap guru dalam mengajar, hampir 75% siswa menjawab guru dalam mengajar bersikap cukup baik, selebihnya 17,2% menjawab sangat baik dan 7,8% menjawab kurang baik.


TABEL IX
Tanggapan Siswa Terhadap
Faktor Motivasi dari Guru

Item
Alternatif Jawaban
F
%
15


  1. Keteladanan dan Kewibawaan
  2. Kemurahan dalam nilai
  3. Ancaman dan hukuman
  4. Tidak ada

29
0
8
27
50
0
12,5
39

Jumlah
64
100

Dari tabel di atas nampak bahwa alternative jawaban yang di pilih kebanyakan siswa mengatakan bahwa guru agama, karena keteladanan dan kewibawaan. Pernyataan ini menggambarkan bahwa siswa mempunyai penilaian yang baik terhadap guru.
  1. Tanggapan siswa terhadap cara meningkatkan motivasi belajar yang diterapkan guru agama Islam .
Tanggapan ini bertujuan untuk mengetahui gambaran bagaimana siswa menanggapi dan menilai upaya yang di lakukan guru agama. Dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di SLTPN 3 Kuningan, untuk mengetahui tanggapan tersebut dapat dilihat dari table sebagai berikut:


TABEL X
Tanggapan Siswa pada upaya guru
dalam peningkatan motivasi belajar

Item
Alternatif jawaban
F
%
2
a. Selalu
b. Cukup sering
c. Kadang-kadang
d. Tidak pernah
15
14
29
2
29,7
21,9
45,3
3,1

Jumlah
64
100
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa dalam upaya meningkatkan motivasi belajar agama, pada setiap berganti materi pelajaran siswa
menjawab 45,3% guru kadang-kadang menjelaskan tujuan belajar agama, pada 29,7% menjawab selalu menjelaskan dan 21,9% menjawab cukup sering sedang yang menjawab tidak pernah ada 3,1%. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa guru dalam menjelaskan tujuan belajar agama untuk setiap berganti pelajaran sebagai salah satu usaha guru dalam meningkatkan motivasi belajar agama pada siswa masih belum optimal karena hal tersebut sangat penting agar siswa memahami manfaat dari belajar agama sehingga siswa dengan sendirinya akan memotivasi untuk belajar agama Islam.

TABEL XI
Tanggapan siswa terhadap cara peningkatan
kegiatan belajar mengajar PAI
Item
Alternatif jawaban
F
%
2

a. Menciptakan situasi persaingan di kelas
b. Menunjukkan prestasi siswa
c. Memberi banyak ulangan
d. Memberi hadiah
27
29
8
0
42,2
45,3
12,5
0

Jumlah
64
100

Dari tabel diatas dapat di simpulkan bahwa cara yang di lakukan guru dalam meningkatkan motivasi belajar PAI sebanyak 45,3% siswa menjawab dengan menunjukkan prestasi siswa, dan 42,2% siswa menjawab dengan menciptakan situasi persaingan di kelas, sedang 12,5%
menjawab dengan banyak memberi ulangan, dan yang menjawab dengan
memberi hadiah 0%.

TABEL XII
Tanggapan Siswa terhadap upaya
motivasi guru di sekolah

Item
Alternatif jawaban
F
%
5
    1. Pengajian
    2. Tahlil
    3. Diskusi keagamaan
    4. Qiroah

22
17
25
0
34,4
26,6
39,1
0

Jumlah
64
100
Dari tabel di atas nampak bahwa kegiatan keagamaan di sekolah yang menurut siswa dapat membantu memotivasi belajar agama pada siswa adalah kegiatan diskusi keagamaan dan pengajian yang banyak mendorong yakni 39,1% dan 34,4%.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh guru agama Islam pada siswa baik kegiatan kurikuler maupun ekstra kurikuler telah banyak membantu siswa dalam meningkatkan motivasi belajar agama Islam.
  1. Tanggapan Siswa terhadap fasilitas di Sekolah
Ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana tanggapan siswa terhadap fasilitas yang ada di sekolah yang di gunakan untuk memotivasi belajar siswa. Berikut tabel tentang fasilitas mendorong pengajaran di sekolah.

TABEL XIII
Tanggapan Siswa terhadap alat pengajaran
Item
Alternatif Jawaban
F
%
4
a. Al Qur’an
b. Peta
c. Rukuh
d. Buku pegangan
8
0
0
56
12,5
0
0
87,5
Jumlah
100
100
Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa alat yang tersedia di SLTPN 3 Kuningan masih terbatas, hampir 87,5% siswa mempunyai, sebab hanya buku pegangan dan 12, 5% al-Qur`an yang dijadikan sebagai media pembelajaran PAI.
  1. Tanggapan siswa terhadap Sosio kultural kelas
Tanggapan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penilaian siswa terhadap sosio kultural keagamaan di sekolah, apakah telah mendorong dalam belajar atau tidak di lihat dari tabel sebagai berikut:
TABEL XIV
Tanggapan siswa terhadap kultur keagamaan
di SLTP 3 Kuningan

Item
Alternatif jawaban
F
%
16
  1. Situasi dan kondisi keagamaan
  2. Kelengkapan sarana prasarana
  3. Kegiatan keagamaan
  4. Lingkungan Sekolah
14
0
40
10
21,9s
0
62,5
15,6

Jumlah
64
100

Dari tabel diatas dapat di simpulkan bahwa kultur kegiatan keagamaan di SLTPN 3 Kuningan telah cukup mendorong motivasi belajar siswa, yakni dengan adanya kegiatan keagamaan 62,5%, lingkungan Sekolah 15,6% dan Situasi dan kondisi keagamaan 21,9%

Hasil Usaha Guru dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa pada Bidang Studi PAI .

Dengan mengetahui bagaimana tanggapan siswa terhadap usaha guru agama yang telah ditempuh dalam meningkatkan motivasi belajar siswa dapat dijadikan sebagai tolok ukur keberhasilan proses belajar mengajar pendidikan agama Islam.
Dari hasil Observasi maupun wawancara dapat disimpulkan bahwa usaha guru agama Islam dalam meningkatkan motivasi belajar siswa khususnya pada bidang studi PAI cukup baik karena dipengaruhi dengan adanya lingkungan yang baik. Hal ini terbukti dengan banyaknya para siswi yang mengenakan jilbab di sekolah dan cukup antusiasnya siswa dalam mengikuti kegiatan- kegiatan keagamaan yang diadakan di luar jam mata pelajaran sekolah. Namun upaya guru dalam meningkatkan motivasi belajar agama pada siswa tidaklah cukup untuk mencapai keberhasilan proses belajar mengajar yang maksimal, karena itu harus di dukung oleh motivasi belajar dalam diri siswa itu sendiri (motivasi intrinsik) yang kuat.
Kondisi motivasi belajar agama siswa di SLTPN 3 kuningan juga cukup baik, karena sebagian besar siswa cukup antusias dalam mengikuti
mata pelajaran agama Islam walaupun masih ada sebagian siswa yang tidak memperhatikan dan kurang meresapi materi pelajaran yang disampaikan oleh guru agama, hal ini mungkin terjadi karena sarana dan penyediaan media pembelajaran khususnya pelajaran agama yang belum maksimal sehingga siswa kurang termotivasi dan merasa jenuh terhadap mata pelajaran agama Islam.
Oleh karena itu, motivasi belajar siswa terutama pada bidang studi pendidikan agama Islam khususnya oleh guru agama Islam perlu ditingkatkan lagi, hal ini bertujuan untuk mencapai keberhasilan proses belajar mengajar secara optimal dalam mewujudkan pembentukan manusia muslim yang mampu mengamalkan ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari- hari dan dapat dijadikan sebagai pedoman hidup (Way of Life) sesuai dengan visi dan misi dari SLTPN 3 Kuningan itu sendiri.
========================================================================

BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan

Berdasar pada uraian di atas, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
Keadaan motivasi belajar siswa pada bidang studi pendidikan agama Islam di SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat cukup baik, hal ini terbukti bahwa siswa memiliki motifasi kuat mengikuti mata pelajaran agama Islam, walaupun masih ada sebagian kecil siswa yang kurang memperhatikan guru ketika menyampaikan materi pelajaran tersebut.
Usaha-usaha yang telah ditempuh oleh guru agama Islam SLTPN 3 Kuningan dalam meningkatkan motivasi belajar siswa pada bidang studi pendidikan agama Islam diantaranya:
Mengadakan kegiatan intra kurikuler yaitu dengan cara:
Dengan menumbuhkan dan meningkatkan perhatian dan konsentrasi siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar agama Islam.
Dengan menumbuhkan semangat belajar agama Islam sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar dalam diri siswa baik di kelas maupun di luar kelas.
Dengan mendorong siswa dan memberi kesempatan untuk ikut berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar agama Islam.
Dengan menggunakan metode yang variatif yang dapat menciptakan kondisi kelas yang aktif sehingga tercapainya tujuan proses belajar mengajar.
Menumbuhkan kesadaran diri siswa akan penting dan manfaatnya pendidikan agama Islam dalam kehidupan sehari-hari di dunia maupun kehidupan kelak di akhirat.
Mengadakan kegiatan-kegiatan keagamaan di luar jam pelajaran sekolah/ kegiatan ekstra kurikuler yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa seperti:
a. Yasinan, yang dilaksanakan setiap hari Jum`at sebelum kegiatan belajar mengajar berlangsung.
b. Peringatan hari-hari besar Islam seperti peringatan maulid Nabi SAW atau isra` mi`raj dengan mendatangkan penceramah dari luar.
c. Shalat berjama`ah yang dilaksanakan setiap hari terutama shalat dzuhur serta shalat jum`at di sekolah.
d. Studi Islam Intensif, kegiatan keagamaan kerjasama antara sekolah dan remaja mesjid Syiarul Islam Kuningan ini dilaksanakan pada tiap hari Minggu.
3. Hasil dari usaha guru agama Islam dalam meningkatkan motivasi belajar agama pada siswa baik, meliputi:
a. Ada peningkatan motivasi belajar agama pada siswa
b. Antusiasnya siswa dalam mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan yang diadakan diluar jam mata pelajaran sekolah.
c. Banyaknya sisi yang memakai jilbab di sekolah.

Saran- saran

Bagi kepala sekolah
Dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang telah dirumuskan, hendaknya lebih meningkatkan kerjasama terutama dengan guru, orang tua wali dan masyarakat serta semua komponen yang ada di sekolah sehingga kegiatan- kegiatan yang dilakukan dapat berjalan dengan efektif dan efisien serta memudahkan dalam pencapaian tujuan pendidikan yang maksimal.
Dalam upaya membentuk siswa yang berakhlak mulia, selalu maju dalam prestasi dan terampil sesuai dengan visi SLTPN 3 Kuningan, hendaknya ada sistem integrasi pembelajaran agama dalam semua mata pelajaran. Dengan demikian semua guru akan lebih memiliki rasa tanggung jawab dalam menanamkan nilai agama Islam.
Bagi guru agama Islam
Guru hendaknya memperlakukan siswa sesuai dengan perkembangan psikologis siswa terutama dengan tingkat perkembangan jiwa dan agama siswa.
Guru dalam membina kepribadian siswa hendaknya diikuti dengan contoh atau teladan yang nyata dari guru (suri tauladan yang baik).
Guru hendaknya meningkatkan kompetensi profesional sebagai seorang pengajar, sehingga akan menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan dan siswa akan lebih termotivasi untuk lebih giat belajar agama.
Guru hendaknya selalu membuat persiapan pengajaran, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat terarah sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
3. Bagi Siswa
Hendaknya siswa lebih tekun lagi belajar, khususnya belajar agama Islam, baik itu di sekolah maupun di luar sekolah. Karena agama adalah merupakan bagian yang paling mendasar bagi manusia sebagai pegangan hidup baik di dunia maupun di akhirat.

4. Bagi sekolah
Sekolah hendaknya melengkapi sarana prasarana pembelajaran khususnya untuk mata pelajaran pendidikan agama Islam, karena dengan kelengkapan sarana prasarana yang ada di sekolah akan sangat membantu siswa dalam meningkatkan motivasi belajarnya.

Penutup

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada sang Khalik yang telah memberikan petunjuk, bimbingan dan pertolongan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Kepada semua pihak yang terlibat, secara langsung maupun tidak langsung membantu penulis dalam penyusunan skripsi ini, terutama Drs. Moch. Fuad selaku dosen pembimbing yang telah memberikan arahan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Penulis ucapkan terima kasih dan semoga mendapat ridha dan balasan dari Allah SWT.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini mempunyai banyak kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik dari berbagai pihak sehingga penulis dapat memperbaiki kekurangan skripsi ini.
Semoga Allah SWT meridhai dan menerima amal perbuatan kita, Amin.
Yogyakarata, 13 Juni 2004
Penulis
(Lia Nur Fajar) 
========================================================================
DAFTAR PUSTAKA
 
Abd. Rahman Abror, Psikologi Pendidikan, Yogyakarta, Tiara Wacana, 1993
Abd. Rahman Saleh, Didaktik Pendidikan Agama Islam, Jakarta, Bulan bintang, 1973
Anas Sudjiono, Pengantar Statistik Pendidikan, Jakarta, Rajawali, 1996
Depag RI, Pedoman Evaluasi PAI pada Sekolah Umum di SD, SLTP, dan SLTA, Jakarta, Bimbaga Islam
I.L. Pasaribu, Proses Belajar Mengajar, Bandung, Tarsito, 1983
Imam Barnadib, Dasar-Dasar Pendidikan Perbandingan, Yogyakarta, Institut Press, IKIP Yogyakarta, 1988
Kuntcaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Jakarta, Gramedia, Pustaka Utama, 1997
Moh. Zein, Metodologi Pengajaran Agama, Yogyakarta, AK. Group, 1995
Nico Syukur, Pengalaman dan Motivasi Beragama ,Yogyakarta, Kanisius, 1988
Tim penyusun Pusat dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, 1989
R. Ibrahim dan Nana S., Perencanaan Pengajaran, Jakarta, Rienika Cipta, 19
Sardiman AM., Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta, Raja Graffindo Persada, 1996
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta, Bina Aksara, 1988
S.Nasution, Didaktik Asas-asas Mengajar, Bandung, Jemmars, 1986
Sumardi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, Jakarta, Rajawali, 1990
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktis, Jakarta, Rineka Cipta, 1991
Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Yogyakarta, Yayasan Penerbitan UGM,1989
W. S. Winkel, Psikologi Pengajaran, Jakarta, Gramedia, 1996
Zakiah Darazat, Pembinaan Remaja, Jakarta, Bulan Bintang, 1975
Zuhairini dkk., Metodik Khusus Pendidikan Agama, Surabaya, Usaha Nasional, 1983
















BAB II

GAMBARAN UMUM SLTPN 3 KUNINGAN
JAWA BARAT



Letak Geografis

Letak sebuah sekolah sangat berpengaruh terhadap proses kegiatan belajar mengajar, karena hal ini dapat menciptakn suatu situasi dan kondisi edukatif yang nyaman, aman dan tentram dengan prinsip efisiensi dan efektifitas yang dapat menumbuhkan dan mengembangkan motivasi belajar pada siswa.
Adapun SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat ini secara geografis cukup strategis karena selain lingkungan sekitarnya berdekatan dengan lembaga pendidikan dan pesantren yang sangat kondusif untuk proses kegiatan belajar mengajar juga mudah di jangkau oleh alat transportasi sehingga memudahkan siswa untuk bersekolah di SLTPN 3 Kuningan.
SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat adalah merupakan salah satu sekolah lanjutan pertama yang di kelola oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sekolah ini terletak di Jl. Pramuka no.104 Kelurahan Purwawinangun Kecamatan Kuningan Jawa Barat yang di bangun di atas tanah seluas 5450 m dengan kondisi gedung yang sudah permanen sehingga sangat nyaman untuk pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.




Adapun batasan-batasan geografis SLTPN 3 Kuningan adalah sebagai berikut:
  1. Sebelah barat berbatasan dengan SMU Bina Utama Kuningan
  2. Sebelah timur berbatasan dengan STKIP/ STIE Kuningan
  3. Sebelah selatan berbatasan dengan perumahan penduduk
  4. Sebelah utara berbatasan dengan SD Purwawinangun IV dan Ponpes Miftahul Falah.56

Sejarah Singkat Berdirinya

Pada awalnya SLTPN 3 Kuningan adalah merupakan sekolah menengah ekonomi pertama (SMEP) Kuningan dengan jumlah ruanagn ada 9 ruang dimana masing- masing kelas I sampai kelas III hanya ada 3 kelas. Kemudian pada tanggal 1 april 1979 dengan SK menteri no. 030/ 4/979 berubah menjadi SLTPN 3 kuningan. Jadi sekolah ini adalah merupakan integrasi dari SMEP, sehingga untuk lokasi bangunan pun memakai gedung bekas SMEP, serta kepala sekolah pertama SLTPN 3 Kuningan ini adalah mantan kepala sekolah ekonomi pertama yang bernama Didi S. Sumantri, BA. hingga tahun 1986.57
A
31
dapun kepala-kepala sekolah yang pernah menjabat di SLTPN 3 Kuningan adalah:
  1. Didi S. Sumantri, BA : tahun 1967- 1986
  2. Drs. Iwas Sumantri : tahun 1986-1988
  3. Abbas, BA : tahun 1988- 1997
  4. Cibu, BA : tahun 1997- 1999
  5. Drs. E. S. Sudarso : tahun 1999- 2001
  6. Gari Mardiono, S.Pd. : tahun 2001-2003
  7. Drs. S. Setiawan, Bc.Ak.,M.Pd. : tahun 2003-sekarang58
Dari tahun ke tahun SLTPN 3 Kuningan mengalami perkembangan yang pesat, hal ini terbukti dengan minat siswa untuk menuntut ilmu di sekolah ini semakin meningkat. Hingga saat ini jumlah siswa di SLTPN 3 Kuningan mencapai 950 orang dengan jumlah guru 46 orang ditambah staff TU 12 orang.

Tujuan Berdiri

Tujuan umum didirikannya SLTPN 3 Kuningan adalah sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yaitu ikut mencerdaskan kehidupan bangsa dengan menyiapkan peserta didik menjadi manusia yang taqwa, terampil dan bertanggung jawab.
Selain tujuan, SLTPN 3 Kuningan juga mempunyai visi dan misi yang di kembangkan yaitu:
  1. Visi
Membentuk insan yang berakhlak mulia, maju dalam prestasi, trampil dalam berkarya.


  1. Misi
  1. Meningkatkan wawasan keagamaan melalui kegiatan keislaman dan ketaqwaan
  2. Meningkatkan prestasi melalui kegiatan belajar mengajar dan latihan secara intensif.
  3. Meningkatkan kelengkapan sarana prasarana yang menunjang terhadap kemajuan sekolah.
  4. Meningkatkan koordinasi / hubungan dengan masyarakat dan instansi yang terkait.
  5. Meningkatkan profesionalisme kerja guru melalui kegiatan formal dan non formal.59

Struktur Organisasi Sekolah

Sekolah merupakan wadah kegiatan masyarakat yang terdiri dari guru, siswa dan karyawan yang perlu mengembangkan diri untuk berprestasi. Oleh karena itu untuk memperlancar pelaksanaan dan menangani kegiatan yang berlangsung dalam proses pengajaran, diperlukan struktur organisasi yang tepat. Adapun struktur organisasi SLTPN 3 Kuningan adalah sebagai berikut:










Struktur Organisasi SLTPN 3 Kuningan
Kepala Sekolah Sekolah Sekolah


Kepala TU
BP 3


WAKASEK
Kesiswaan
WAKASEK
Kurikulum



Dewan Guru
Wali Kelas ----- Guru Bid. Studi



Siswa



Kepala Sekolah : Drs. S. Setiawan, bc, Ak. M. Pd.
Wakil kepala Sekolah :
    1. Urusan Kesiswaan: R. Idih Supriadi
    2. Urusan Kurikulum: Rukmana M. Pd.
Kepala TU : Ibu Tuti



Tugas masing-masing komponen struktur organisasi SLTPN 3 Kuningan adalah:
Kepala Sekolah
Kepala sekolah mempunyai tugas sebagai pengelola, pemimpin, instruktur, pengawas, pembimbing dan penanggung jawab utama terhadap seluruh pelaksanaan proses pendidikan di sekolah dan pengajaran berdasar pada peraturan yang berlaku, mengorganisasikan, mendorong kreatifitas, monitoring dan menyeleksi semua kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan di SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat.
Wakasek bidang kurikulum
Wakil kepala sekolah bidang kurikulum mempunyai tugas untuk menyusun program pengajaran, pembagian tugas guru dan mengarahkan serta mengkoordinasi program pengajaran.
Wakasek bidang kesiswaan
Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan ini mempunyai tugas untuk menyusun program pembinaan kesiswaan, melaksanakan bimbingan pengarahan dan pengendalian setiap kegiatan siswa serta menyusun laporan kegiatan siswa secara rutin.
Kepala TU
Kepala TU bertugas merapikan administrasi kepegawaian dan kesiswaan serta bertanggung jawab terhadap ketertiban administrasi sekolah dengan di bantu staf TU lainnya. Jumlah personal yang bertugas di TU ada 12 orang.


Keadaan Guru, Karyawan dan Siswa

Keadaan guru dan karyawan
Salah satu faktor yang sangat menentukan bagi keberhasilan proses pembelajaran dalam sebuah lembaga adalah keberadaan guru, karena tanpa adanya guru kegiatan belajar mengajar di sekolah tidak akan mencapai tujuannya. Guru mempunyai tugas yang sangat penting dalam proses kegiatan belajar mengajar, karena di tangan guru sebagian besar tujuan dan harapan kemajuan siswa.
SLTPN 3 Kuningan mempunyai guru sebanyak 46 orang. Di antara 46 orang yang bertugas di SLTPN 3 Kuningan, terdapat dua orang guru agama Islam yaitu:
    1. Udin Syamsudin, S. Ag. dan
    2. Arifudin, S.Ag.
Kedua guru agama tersebut adalah alumni-alumni Fakultas Tarbiyah STAI Cigugur Kuningan Jawa Barat, salah satu kompetensi (kompetensi professional) yang disyaratkan untuk menjadi seorang guru telah terpenuhi dengan latar belakang akademik kedua orang guru agama Islam tersebut.60
Dari data di atas maka dapat disimpulkan bahwa guru-guru yang ada di SLTPN 3 Kuningan antara professional dan akademis dengan tugas mengajar sudah cukup sesuai. Adapun pembagian status sebagai guru ada dua yaitu:




    1. Guru Tetap
Guru tetap adalah guru yang di angkat secara resmi dan mendapat SK dari pemerintah., mempunyai NIP dari departemen pendidikan dan kebudayaan atau dari Depag serta ditugaskan mengajar di SLTPN 3 Kuningan Jawa barat.
    1. Guru Bantu Sekolah
Guru bantu sekolah adalah guru yang di angkat oleh yang kepala sekolah bersangkutan atas persetujuan departemen pendidikan dan kebudayaan atau tingkat kabupaten sebagai tenaga honorer sehingga tidak ber-NIP, gaji dan golongan diperoleh dari sekolah yang bersangkutan.
Sedangkan yang di maksud karyawan di sini adalah orang yang mempunyai peranan penting dalam rangka ikut mensukseskan tercapainya kegiatan pembelajaran di sebuah lembaga pendidikan. Oleh karena itu keberadaannya perlu mendapat perhatian besar.
Untuk lebih jelasnya, berikut penulis sajikan tabel mengenai daftar nama mengenai guru dan keadaan karyawan:

TABEL I

Daftar Nama Guru dan Mata Pelajaran
di SLTPN 3 Kuningan

NO
NAMA GURU
MATA PELAJARAN
01
Drs. Iwan Setiawan, Bc.Ak, M.Pd
Kepala Sekolah
02
R. Idih Supriadi
Wakil Kepala Sekolah/B.K
03
M. Abbas
Karawitan
04
Suwarno
Geografi
05
Sutarma, S.Spd
Biologi
06
Udin Syamsudi, S.Ag
Agama
07
Eed Junaidi
Matematika
08
Rukama, Amp.Pd
Waka.Sek/B.K
09
Martutiningsih
Bahasa Inggris
10
Rohanah
Matematika
11
Tati R, S.Pd
Bahasa Indonesia
12
Hj. Atin T, B.A
Bahasa Inggris
13
Manan R
Fisika
14
Eli Ukaliyah
Bahasa Indonesia
15
Yati Rohyati, Amp.Pd
Sejarah
16
Bambang, S.Pd
B.K
17
Arifuddin, S.Ag
Agama
18
Lili H, S.Pd
Bahasa Inggris
19
Tuti S, S.Pd
Bahasa Indonesia
20
Susilowati, S.Spd
Biologi
21
Abdul Hais, S.Pd
Pen Jas Kes
22
Dian R, S.Pd
KTK
23
Asep S, S.Pd
Ekonomi
24
Tuti Suparti, S.Pd
Fisika
25
Yayah S, S.Pd
Fisika
26
Saehonah, Amp.Pd
Bahasa Indonesia
27
Yayan R
Pembukuan
28
Rahayu, Amp.Pd
Pen Jas Kes
29
N Maemunah, Amp.Pd
Geografi
30
Aah A, S.Pd
Bahasa Inggris
31
Aan Suhanah, Amp.Pd
Bahasa Indonesia
32
Uum Purwaningsih
PPKN
33
Yoyoh K, Amp.Pd
Bahasa Indonesia
34
Nurhasanah, Amp.Pd
Matematika
35
Lina S, Amp.Pd
Matematika
36
Yayat M, Amp.Pd
PPKN
37
Nina K, S.Pd
Matematika
38
Bartolomeus, Amp.Pd
Biologi
39
Haeruddin, S.Pd
Sejarah/ Bahasa Inggris
40
Ratna Ningrum, S.Pd
Karawawitan
41
Nur Siti Dian, S.Pd
KTK
42
Warno, B.A
Bahasa Indonesia
43
Yiyi Khoiriyah
Pembukuan
44
Iin Herlina
Ekonomi
45
Suryatiningsih, S.Pd
B.K
46
Imas P, S.Pd
Bahasa Indonesia

TABEL II

Keadaan Guru dan Karyawan
SLTPN 3 Kuningan
Ijazah
Jumlah
Pegawai
Jumlah
Sarjana
23
Guru tetap
43
Sarjana Muda
12
GBS
3
D2
3
TU tetap
5
D1
8
TU tidak Tetap
5
SLTA
6
TU Kontrak
5
SLTP
1
Lain-lain

SMK
4


SD
1








Keadaan Siswa SLTPN 3 Kuningan
Siswa merupakan subyek didik yang perlu dipahami dan dipertimbangkan dalam kebijaksanaan proses belajar mengajar. Potensi dan tingkat motivasi dalam belajar akan sangat menentukan proses pelaksanaan dan keberhasilan pendidikan. Pada umumnya siswa SLTPN 3 Kuningan berasal dari sekolah dasar.
Secara keseluruhan siswa SLTPN 3 Kuningan berjumlah 950 siswa, yang terdiri dari 477 putra dan 473 putri.61 Untuk lebih jelasnya, secara rinci dapat di lihat pada tabel di bawah ini:

TABEL III

Jumlah Siswa Menurut Tingkatan Kelas
No
Tingkat
Jumlah
1.
Kelas I
312
2.
Kelas II
327
3.
Kelas III
311
Jumlah
950



TABEL IV

Keadaan Siswa SLTPN 3 Kuningan
Th. Ajaran 2003/ 2004 Menurut Agama

No
Kelas
Agama
Jumlah
Islam
Kristen
Katolik
Hindu
Buddha
1.
I
309
2
-
-
1
312
2.
II
314
8
5
-
-
327
3.
III
308
2
1
-
-
311
Jumlah
931
12
6
-
1
950


Adapun aktifitas atau kegiatan siswa selain kegiatan yang bersifat kurikuler juga ada kegiatan yang bersifat ekstra kurikuler baik yang umum maupun kegiatan keagamaan seperti pengajian rutin seminggu sekali, shalat berjama`ah, peringatan hari besar Islam di sertai lomba- lomba dan lain- lain.
Keadaan sarana dan prasarana
Dalam kegiatan belajar mengajar, sangatlah diperlukan adanya sarana dan prasarana yang memadai, hal ini berguna untuk mempermudah usaha atau memperlancar terlaksananya proses pendidikan dalam kegiatan belajar mengajar yang lebih baik sehingga tercapai tujuan yang telah ditetapkan.
Adapun sarana dan prasarana yang ada di SLTPN 3 Kuningan adalah sebagai berikut:
  1. 1 Ruang kepala sekolah
  2. 16 Ruang kelas
  3. 2 Ruang guru
  4. 1 Ruang UKS
  5. 1 Ruang Laboratorium
  6. 1 Ruang BP/BK
  7. 1 Ruang OSIS
  8. 1 Perpustakaan
  9. 1 Musholla
  10. 1 Ruang ketrampilan
  11. 1 Ruang Koperasi
  12. 3 ruang kamar mandi/ WC62

4. Keadaan Sosial keagamaan di sekolah
Pelaksanaan PAI dan suasana kehidupan keberagamaan siswa di SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat berjalan baik.Hal ini di dukung dengan adanya mushala yang selain dapat dijadikan sebagai sarana ibadah juga berfungsi sebagai sarana ukhuwah Islamiah antara sesama siswa dan guru serta karyawan lainnya dengan diadakannya kegiatan- kegiatan keagamaan.
Pergaulan antara siswa yang beragama Islam dengan siswa yang beragama non muslim pun cukup baik, mereka saling menghormati dan toleransi satu sama lain serta tidak membeda- bedakan dalam bergaul.

1 W.J.S. Purwodarminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka,1992) hal. 1136
2 Zuhairini, dkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama (Surabaya: Usaha Nasional,1983) hal. 34
3 Tim Penyusun Pusat dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1989) hal.950
4 I.L. Pasaribu dan B. Simanjuntak, Proses Belajar Mengajar ( Bandung: Tarsito, 1989) hal. 50
5 Nana Sudjana,CBSA dalam Proses Belajar Mengajar (Bandung: Sinar Baru, 1989) hal.5
6 Abd. Rahman Saleh, Didaktik PAI (Jakarta: Bulan Bintang,1975) hal.19
7Sardiman. AM., Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta, Raja Grafindo, Persada, 1996) hal.123
8 Muhaimin, dkk., Paradigma Pendidikan Islam (Bandung: Rosda Karya, 2001) hal.138
9 S. Nasution, Didaktik Asas-Asas Mengajar (Bandung: Jemmars, 1986) hal. 79-80.
10 Imam Barnadib, Dasar-Dasar Pendidikan Perbandingan (Yogyakarta: Institut Press, IKIP Yogyakarta, 1988) hal. 29-30
11 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Menurut Pendekatan Praktis (Jakarta, Rineka Cipta, 1991) hal. 90
12 Sutrisno Hadi, Metodologi Research, (Yogyakarta: Yayasan Penerbitan UGM,1989) hal. 136
13 Suharsimi, op.cit. hal.
14 Sutrisno Hadi, op. cit., hal. 136
15 Ibid, hal. 193
16 Kuntjaraningrat, Metode-metode Penelitian Masyarakat (Jakarta: Gramedia, Pustaka Utama, 1997) hal. 129
17 Suharsimi, op.cit., hal. 124
18 Kunctaraningrat, Metode Penelitian Masyarakat (Jakarta: Gramedia,1990) hal.173
19 Sutrisna Hadi, op. cit., hal. 42
20 Anas Sudjiono, Pengantar Statistik Pendidikan (Jakarta: Rajawali, 1996) hal. 40
21 Abd. Rahman Abror, Psikologi Pendidikan (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1993) hal. 114
22 W. S. Winkel, Psikologi Pengajaran (Jakarta: Gramedia, 1996) hal. 92
23 A. Tabrani R., Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar (Bandung: Rosdakarya,1994) hal.121
24 Ibid, hal 127
25 W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran (Jakarta: Gramedia, 1996) hal. 150
26 Nico Syakur, Pengalaman dan Motivasi Beragama ( Yogyakarta, Kanisius, 1988) hal. 72
27 Ibid, 73
28 Sumardi Suryabrata, Psikologi Pendidikan (Jakarta, Rajawali, 1990) hal. 253
29 I. L. Pasaribu, op. cit.,hal. 76
30 Sardiman, AM., op.cit., hal. 142
31 Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya (Jakarta, Bina Aksara, 1988) hal. 100
32 Moh. Zein, Metodologi Pengajaran Agama ( Yogyakarta: AK. Group, 1995) hal. 57
33PT IAIN, Metode Khusus PAI , hal. 206-207
34 Nana Sudjana, CBSA (Bandung: Sinar Baru, 1989) hal. 34-35
35 A. Tabrani,, op. cit. , hal 121
36 Sardiman, AM.,op. cit., hal. 92-94
37 Internet, situs www.geogle.net. Com.
38 Sardiman AM., Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta: Raja Graffindo Persada, 1996) hal. 123
39 Zuhairini dkk., Metodik Khusus Pendidikan Agama (Surabaya: Usaha Nasional, 1983) hal. 34
40 Nana Sudjana, op. cit., hal. 15
41 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan (Bandung: Rosda Karya, 1995) hal.252
42 Muhaimin, dkk., op. cit., hal. 79
43 Depag RI, Pedoman Evaluasi PAI pada Sekolah Umum di SD, SLTP, dan SLTA (Jakarta, Bimbaga Islam) hal. 7
44 Ibid, hal. 9-12
45 Ibid, hal. 8
46 Muhaimin, dkk., op.cit., hal. 156
47 Dokumen dan wawancara dengan guru agama Islam pada tanggal 15 Maret 2004


48 Wawancara dengan guru agama Islam pada tanggal 5 Maret 2004

49 Di ambil dari data siswa SLTPN 3 Kuningan tahun ajaran 2002/ 2003
50 Ibid
51 Observasi pada tanggal 18 desember 2003

52 Wawancara dengan guru agama pada tanggal 15 Maret 2004
53 Wawancara dengan guru agama pada tanggal 12 Maret 2004
54 Ibid

55 Wawancara dengan guru agama Islam pada tanggal 15 Maret 2004
56 Hasil Observasi pada tanggal 04 Desember 2003
57 Wawancara dengan wakil Kepala sekolah pada tanggal 17 desember 2003
58 Ibid
59 Dokumentasi pengembangan SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat
60 Dokumentasi dan wawancara dengan kepala TU tanggal 19 Desember 2003
61 Ibid
62 Dokumentasi dan wawancara dengan Kepala TU pada tanggal 20 Desember 2003

Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Butta Toa BTG - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template